Airmata Dalam Persembunyian
Prosa Liris Liris Airmata Dalam Persembunyian

AIRMATA DALAM PERSEMBUNYIAN

Manusia. Begitulah mereka menyebut diri. Makhluk berkaki panjang dan sering berjalan terburu-buru dengan wajah yang sering berubah tanpa aku tahu sebabnya. Terkadang bintang berpendar di dalam matanya, sering kali pula mendung menggantung di wajah. Tak jarang pula hujan tiba-tiba menghiasi mata.

Aku mengenal beberapa dari mereka. Namun bagaimana aku bisa mengenal mereka, aku pun tak pernah benar-benar mengerti. Mungkin karena diriku mengalir lembut di antara kehidupan mereka, maka perlahan aku tahu siapa dan bagaimana mereka. Aku pun mampu bersembunyi di manapun tanpa ketahuan.

Yah, aku hanyalah sebutir debu yang sering diterbangkan angin. Karena perjalanan hidupku mengikuti arah angin membawa, tentu saja kedatanganku tidak terjadwal seperti jam minum kopi di pagi hari. Bisa jadi hari ini aku di depan rumah Ambar, besok membonceng motor Alan. Hari berikutnya aku bersama Naomi. Begitulah seterusnya hingga aku kembali bertemu Ambar, Alan, Naomi, dan nama-nama lain.

Kebetulan malam ini aku duduk tenang di teras lantai dua rumah Raina. Melihat gadis cantik itu menekuk wajahnya, aku mengerti bahwa dia sedang tidak baik-baik saja. Entah angin panas atau api jenis apa yang telah meruntuhkan wajahnya yang selalu berseri.

Aku ingat bahwa di beberapa pertemuanku dengannya, wajah rembulan dengan sinar terpancar benar-benar melekat padanya. Namun kini, sinar itu sedang meredup bahkan hilang dari pandangan. Hanya mendung kelabu yang terlukis di sana. Ada apakah gerangan, wahai Raina cantik?

Gadis itu terlihat berdiri bersandar di tembok teras. Pandangannya jauh ke depan, dengan tangan masuk ke dalam saku celana panjangnya. Kemudian kedua telapak tangannya mengusap wajah dengan kasar. Tidak lama, terdengar suara hembusan napas yang keras. Dia merosot dan terduduk sambil memeluk lututnya. Suara isak tangis terdengar pelan dan amat sendu. Pelan, aku mulai mendengar suara dalam isaknya.

“Mengapa aku mempercayainya? Dia sudah beberapa kali berbohong kepadaku. Kenapa aku masih percaya padanya? Aku harus bagaimana? Apa yang harus aku katakan pada ayah dan ibu? Bagaimana aku mempertanggungjawabkan semuanya?”

Ah, suara menyedihkan itu benar-benar menyayat hati. Apakah dia sedang ada masalah dengan kekasihnya? Siapa yang tega membohongi Raina? Apa yang harus dia pertanggungjawabkan kepada orang tuanya?

Apa yang bisa aku lakukan untuk membantumu, Cantik? Ceritalah padaku, meski aku tak mampu menyelesaikan masalahmu. Namun setidaknya hatimu lebih lega. Ah, apapun masalahmu, semoga bisa segera terselesaikan dengan baik dan tidak lagi membuatmu sakit hati dan meneteskan airmata.

“Dia berjanji untuk segera mengembalikan uang kuliah yang dia pinjam. Namun hingga empat semester tetap tidak ada tanda-tanda bahwa dia akan mengembalikan pinjamannya kepadaku. Uang tabungan hasil kerja sebagai asisten sudah menipis. Apalagi sudah dua semester ini aku tidak lagi bisa bekerja sebagai asisten dosen karena pandemi. Tidak mungkin aku minta uang lagi kepada ayah dan ibu. Mereka sudah susah payah mencari uang untukku, apalagi usaha mereka sedang kesulitan karena pandemi. Tetapi aku malah meminjamkannya kepada orang yang tidak bertanggung jawab.

Orang itu! Tidakkah dia ingat saat meminjam dahulu? Begitu memaksa, ingin secepatnya. Tetapi mengapa dia sulit sekali mengembalikan? Bukankah dia tahu bahwa aku membutuhkan uang itu? Mengapa? Dia teman baikku, maka aku rela melepaskan yang aku miliki untuk dia pinjam. Tetapi mengapa dia membohongiku? Mengapa dia katakan dia akan bayar setelah ini, kemudian setelah itu, selanjutnya menunggu ini, lalu menunggu itu, dan akhirnya tanpa berita? Bagaimana pertanggungjawabanku kepada ayah dan ibu? Aaarrrggghhh!”

Aku melihat Raina menangis semakin keras, dia pun meremas rambutnya. Menandakan bahwa dia benar-benar dalam kondisi yang sangat kebingungan. Bagaikan seorang anak yang kebingungan saat naik roller coaster dan ingin turun. Pusing, kondisi terdesak, namun tidak mampu melakukan apapun untuk menghindar. Sungguh kasihan Raina.

Melihat dia yang seperti itu dan mendengar semua kata-katanya barusan, aku ingat Ketika dia kebingungan sekitar sepuluh bulan yang lalu. Ataukah satu tahun yang lalu? Ah, aku tak mampu menghitung waktu dengan tepat. Namun yang pasti dia pun pernah berada dalam keadaan yang hampir sama dengan hari ini.

Bedanya, hari ini dia benar-benar bagai lilin yang leleh tanpa merasakan kondisi padat kembali, karena api yang membakarnya terlalu besar hingga benar-benar menghancurkan.

Raina, jangan pernah menyerah pada panasnya api ini, tetaplah teguh pada hatimu. Jangan pernah meleleh tanpa kembali padat.

Menangislah, kau boleh berteriak sepuasnya. Tetapi jangan pernah hancur! Jangan pernah!

Suatu saat nanti, semoga besok pagi aku bisa bertemu dengan orang yang telah meletakkan harapan tanpa kepastian itu. Sehingga aku bisa katakan kepadanya bahwa kelakuannya telah menghancurkan sebuah hati yang tulus.

Akan aku katakan kepadanya, bayarlah hutangmu.

Bertanggungjawablah!

Sesuaikan janji-janji yang telah kau berikan. Jangan hanya manis di mulut namun tanpa bukti. Jangan hanya ketawa ketiwi kesana kemari, tanpa beban sama sekali.

Duh, kepada orang yang begini ingin sekali aku tabokin berkali-kali.

He!

Kamu!

Lakukan kewajibanmu dulu! Baru kau bisa bersenang-senang!

Duh! Tidak tahukah engkau, bahwa kelakuanmu itu telah menghancurkan hati dan kehidupan orang lain? Dia yang memberikan harta dan tabungannya, pada akhirnya dia yang terlihat bagai pengemis?

Ah, andai aku bisa. Ingin aku hancurkan orang-orang macam begini.

Sayang sekali aku hanya debu yang terbang kesana kemari. Hanya bisa menjadi saksi tentang cerita hidup semua orang.

Manusia.

Ya, manusia yang ternyata banyak sekali yang tidak berlaku manusiawi. Benar-benar sangat disayangkan.

 

Wimala Anindita

01Juli2021

 

0