Barista Tsunami part 2
Barista Tsunami Cerita pendek Cerita anak Pantai Talise

Barista Tsunami ( Part 2 )

Part 1.

Barista Tsunami

 

Sore ini aku berjalan ke pantai,  melihat betapa berantakannya pantai yang dulu sangat indah.  Banyak sekali serpihan dan potongan kayu di sana sini. Banyak juga sampah plastik dan sebagainya.  Pasir putih ini telah kotor oleh banyaknya sampah.  Namun matahari tenggelam yang terlihat sore ini masih tetap indah.

aku duduk di tumpukan kayu dan sampah yang terhampar di pinggir pantai. Menengadah melihat cahaya merah saga di ujung langit.

“Matahari, engkau selalu datang dengan cahaya terang untuk menerangi bumi. Bahkan saat engkau menghilang, masih selalu memberikan keindahan bagi kami,” gumamku perlahan.

Kemudian, aku melihat hamparan pantai yang berombak tenang.

“Laut yang berombak tenang, keindahan dan kenyamanan yang kau berikan kepada kami selama ini membuat kami terbuai dan lupa bahwa engka pun bisa marah dan membuat kami hancur lebur karena ombakmu yang tiba-tiba membesar,”

Aku mengusap wajah dengan telapak tangan kananku. Aku masih sering lupa bahwa aku hanya memiliki satu tangan sekarang. Berada dalam kebimbangan, membuat aku benar-benar berada pada titik terrendah. Bingung dan tidak tahu apa yang harus aku lakukan.

Yang aku tahu, berdiam diri bukanlah hal yang membanggakan. Aku harus ikut membantu teman-teman yang sedang berjibaku dengan keringat di seluruh lingkungan yang kena dampak bencana adalah keinginan terbesarku saat ini.

“Aku harus melakukan sesuatu! Karena aku adalah Garuda. Kebanggaan Indonesia,” tekadku bulat.

“Apa yang harus kulakukan?  Apa keahlianku?  Bagaimana caraku membantu Indonesiaku?  Bagaimana caraku membangkitkan semangat semua orang?” gumam Garuda terus menerus sambil memandang terbenamnya matahari yang memesona mata dan hatinya.

Tiba-tiba tangannya memegang bongkahan kayu yang menjadi tempatnya duduk. Dia tersenyum, sambil melihat semua orang yang lalu lalang di depannya sambil mengusap peluh di dahi mereka.

“Aku tahu, ada sesuatu yang bisa aku lakukan untuk membantu semua orang!” aku berteriak sambil mengepalkan tangan.

Wajahku pasti terlihat sangat sumringah dengan senyum yang selalu menghias sore itu. Kebahagiaan sedang menyelimuti hatiku. Hangat menyelimuti rongga dada.

 

***

 

Pagi ini,  aku meminta Gegas,  Badai,  dan Tadulako untuk datang ke tenda.  Aku berrencana membicarakan gagasan yang aku pikirkan semalam.

 

“Teman-teman,  aku memohon bantuan pada kalian untuk mengumpulkan serpihan dan potongan kayu di pantai,” pintaku kepada mereka.

 

“Untuk apa, Garuda?” tanya Badai dan Tadulako.

 

“Aku punya rencana,  untuk bisa mengobarkan semangat dan membuat senyum mengembang kembali di sini,” ungkapku bersemangat.

 

Ketiga temanku berpandangan dan tersenyum, “siap, kami akan bantu.  Nanti setelah semua potongan kayu terkumpul, kami akan memberi kabar.”

Aku tahu bahwa Gegas, Badai, dan Tadulako sangat bahagia melihat aku memiliki semangat kembali. Mereka pasti akan membantuku sepenuh hati. Kami ini empat sekawan yang selalu saling membantu satu sama lain sejak dahulu. Apalagi sekarang, saat bergandengan tangan sangat dibutuhkan sesama.

 

***

 

Potongan kayu telah terkumpul. aku sangat senang melihatnya. Kemudian aku memperlihatkan sebuah gambar sketsa kepada mereka.

Rencanaku segera disiapkan. Kami berempat bahu membahu untuk membangun impian.

Sebuah impian yang aku siapkan sesuai dengan keahlianku. Tanpa harus angkat berat dan menggunakan kekuatan fisik yang berat, aku akan bisa membantu semua orang agar bisa kembali tersenyum dan bersemangat.

Satu per satu potongan kayu di atur sedemikian rupa, paku dan tali disematkan. Suara palu bergantian terdengar merdu bagi mereka berempat.

“Badai! Jangan salah tancapkan paku!” seru Tadulako.

“Hahaha, aku bukan tukang kayu. Maklumin sajalah, Tadulako!” seru Badai menjawab.

Aku hanya bisa tertawa lebar mendengar mereka bersenda gurau bersama. Sambil berpangku pada tongkat penyangga, aku berjalan pelan dan menyiapkan segala hal yang aku bisa dan mampu lakukan.

Meski kaki kiri dan tangan kiriku telah dipotong, bukan berarti semangatku juga harus ikut terpotong, bukan?

Aku mulai merebus air untuk membuat minuman bagi teman-temanku. Apa saja aku coba lakukan untuk bisa menjadi bagian dari perbaikan di pantai Talise. Saling memberi semangat satu sama lain, adalah salah satu hal yang kami lakukan. Seluruh warga pantai Talise sadar betul akan hal tersebut.

Aku pun akan melakukan hal yang aku mampu. Salah satunya adalah membuatkan minuman bagi mereka yang telah mengerahkan tenaga dan keringat.

“Kopi sudah siap!” teriakku kepada mereka.

Semua orangyang sedang sibuk segera menghentikan kegiatan mereka. Kami berkumpul sebentar untuk sekedar melepas lelah dan menikmati kopi buatanku.

 

***

“Warkop Tsunami” tertulis jelas di sebuah papan di pinggir pantai,  dan terlihat beberapa orang sedang duduk di bangku-bangku kayu sambil minum kopi sembari ngobrol dan menikmati pantai meskipun masih belum bersih.

 

Ya, aku Garuda adalah seorang barista, ahli meracik minuman terutama kopi.  Keinginan untuk membantu warga yang terkena musibah telah mengusik ketenanganku.  Tetapi karena aku sendiri juga terkena dampak bencana dan membuatku kesulitan bergerak aktif secara fisik,  maka aku memilih untuk menggunakan keahlian yang aku miliki sebagai barista agar bisa membuat warga sekitar tersenyum.  Ide membuat sebuah cafe kecil dengan menggunakan potongan-potongan kayu di pantai, adalah sebuah hal kecil yang bisa aku lakukan dengan kondisi fisikku yang tidak sempurna. Café dimana warga bisa saling bertemu dalam suasana santai sambil menikmati sunset.

Aku ingin semua orang bisa mengumpulkan semangat dan masih bisa menikmati keindahan pantai Talise meskipun keadaan porak poranda masih mengganggu. Di sinilah, di tempat sederhana ini semua orang bisa duduk sambil menikmati kopi dan menjadi saksi keindahan matahari terbenam.

Di cafe ini,  semua orang boleh minum kopi tanpa membayar dengan uang. Ada donator yang bersedia membantu mewujudkan mimpi. Warga hanya perlu membayar dengan menyapa dan tersenyum, serta saling mendukung untuk menyemangati satu sama lain. Agar keadaan segera membaik kembali dan trauma akibat bencana segera mencair.

 

Garuda di dadaku

Garuda kebanggaanku

Ku yakin hari ini pasti menang

 

Kobarkan semangatmu

Tunjukkan keinginanmu

Ku yakin hari ini pasti menang

 

Sayup-sayup terdengar lagu kesukaan Garuda.  Hari ini Garuda telah menang menaklukkan kebimbangan dalam dirinya.  Dia juga telah mampu mengobarkan semangat sekitarnya dengan menunjukkan keinginannya untuk bisa berbagi dan membantu sesamanya.

Pantai Talise pasti segera mendapatkan keindahannya kembali. Senyum mengembang akan menghias wajah seluruh warga pantai Talise.

 

Jan2020

Wimala Anindita

0