BUANGLAH MIMPIMU, GANTARI

Setelah sekian ribu senja aku lewati, berbagai macam rasa gelap telah aku geluti. Nama Btari tetap membuatku tak secantik bidadari. Aku tetap aku, yang harus menjalani hidup tertatih dalam gelap.

Entah. Kapan bertemu terang?

Entahlah, kapan dapat bertemu mentari?

Lalu untuk apa aku hidup jika hanya gelap yang aku temui? Benarkah ini yang disebut hidup?

“Bukankah begitu, Gantari?” tanya Btari kepadaku. Aku hanya bisa tersenyum mendengar pertanyaannya. Apalagi ketika aku mendengar suara Anindita menimpali.

“Jalankan saja hidup ini dengan baik. Tidak pernah ada yang sempurna dalam perjalanan. Meskipun namaku Anindita, yang berarti sempurna dan lugu, namun tetap saja tidak ada kesempurnaan dalam hidup. Mencari kesempurnaan? Hhhhh…. Hanya mimpi! Singkirkan saja pikiran itu. Tenanglah, jalani dan nikmati. Hanya itu tugas kita sekarang.”

“Gantari! Bukankah engkau setuju denganku? Hidup harus bersemangat, apapun yang terjadi!” Dia menatapku tajam. Tatapan matanya menusuk ke dalam hati. Dia memang selalu bersemangat, tak pernah mengeluh tentang apapun.

Berbeda dengan Btari, yang memiliki paras cantik jelita namun selalu ada yang kurang dalam hidupnya.

Berbeda lagi denganku, yang selalu suka membicarakan tentang anak-anak. Melihat pertumbuhan dan perkembangan buah hati dari waktu ke waktu adalah kenikmatan tiada tara bagiku. Ada kenikmatan yang aku dapatkan ketika melihat anak gadisku tumbuh dengan baik. Senyumnya yang merekah adalah kehidupanku, segala yang ingin aku raih.

“Bukan begitu, Gantari?” Btari kembali ajukan tanya dalam teriakannya.

“Lihatlah, bahkan di balik senyum anak gadis itu tetap terlihat sebuah kekhawatiran. Lihatlah! Lihat!” dia masih berseru dengan tatapan nanar.

“Sudah aku katakana berulangkali, jalani saja hidup ini! Kau akan temukan keindahan di depan sana! Percayalah!” Anindita kembali menimpali pembicaraan kami.

“aku hanya menginginkan kebahagian untuk anak gadisku. Melihat dia tumbuh baik dengan senyum menghiasi wajahnya sudah membuatku terbang ke awang-awang,” sahutku santai.

“Tak adakah sedikit rasa kecewa di hatimu, Gantari?” tanya Btari.

Aku menatapnya, aku yakin aku memberikan pandangan penuh cinta kepadanya. Hanya gelengan kepala yang aku berikan kepadanya.

Sebenarnya jika aku hanya memikirkan diriku sendiri, tentu saja aku memiliki kecewa. Tetapi untuk apa? Tetap saja tidak ada yang bias mengobati rasaku. Hanya anakku saja yang bisa mengalihkan kehidupanku. Maka inilah aku, Gantari. Aku yang akan tetap hidup untuk anak gadisku.

Ah, tentu saja kau akan selalu bahagia, Gantari! Anindita berseru kepadaku sambal tersenyum. Dia terlihat sangat puas dan bahagia dengan caraku mengambil jalan hidup.

Kalian benar-benar membuatku kebingungan, begitulah Btari menggumam sambil membuang mukanya. Wajah cantiknya sungguh alami, namun sangat disayangkan dihiasi dengan mulutnya yang cemberut.

Hiduplah, saudaraku. Dengan begitu kau akan bisa temukan bahagia di sepanjang jalan yang kau tempuh. Aku, Gantari telah memulai. Kapan waktumu?

 

Wimala Anindita

Bandung, 100720

0