Lurung Berdengung

“Mbak, anak-anak sudah sehat?” sebuah tanya darimu, bukan hanya menyentuh kuping tapi juga merobek hati.

Tak ada inginku untuk menjawab bahkan sekadar mendongakkan wajahpun enggan.

Aku tidak marah, juga tidak benci, tapi aku masih belum lupa. Bagaimana kau buang mukamu jauh-jauh setiap kali kita berjumpa. Bagaimana kau lempar kata-kata busuk tentangku yang segera diserbu kerumunan lalat hijau yang berdengung sepanjang lurung.

“Ingat, Nduk, sak dawa-dawane lurung isik dawa gurung.” Selarik nasihat Bapak yang acap terucap. Nasihat yang pernah aku abaikan tapi kini sungguh nyata aku rasakan. Rangkaian kalimat berlumur dusta yang meluncur dari mulutmu terus melesat menembus sekat, menerobos setiap celah-celah terbuka, mengubah putih menjadi hitam dalam sekejap mata

Lalu aku harus bagaimana, saat satu sapa palsumu masih terasa perih menoreh luka?

Aku tidak peduli!

 

Lina Boegi, 29 Juli 2021

0