MENYERAH, KALAH

Dia, berjalan gontai membawa badannya yang mungil. Kepalanya menunduk, wajahnya tergurat kesedihan teramat dalam. Tidak ada tetes airmata di sana. Luka hatinya terlalu dalam, tak mampu lagi dia keluarkan rasa sedih ke permukaaan. Diam, hanya itu yang mampu dia lakukan.

Langkah kakinya terdengar berat, dia menyeretnya perlahan. Suara alas kaki terdengar menyayat hati. Dia sudah tak mampu tegak berdiri dan berjalan gagah seperti biasa. Dia sudah menyerah, kalah pada nasib yang membawanya.

Dia, Arabelle. Seorang perempuan cantik berumur sekitar empat puluh tahun. Memiliki rambut panjang dan mata hitam besar.

Biasanya, dia sangat ramah dengan senyum yang selalu mengembang. Lesung pipit kecil di pipi kiri membuat wajahnya terlihat semakin menarik.

Meskipun dia bersekolah di jenjang tinggi, keinginannya tetap sederhana. Menikah dengan lelaki yang dia cintai dan mencintainya.

Memiliki keluarga yang bahagia dengan anak-anak yang meramaikan rumahnya.

Sungguh disayangkan, hingga pernikahannya telah mencapai satu dasa warsa, belum ada tanda-tanda kehadiran jabang bayi dalam keluarganya.

Tanda yang dia dapatkan hanyalah bahwa sejak lima tahun lalu, suaminya, lelaki kebanggaannya telah bermain api dengan beberapa perempuan. Rasa sedih dan kecewa yang dia tutupi sekian lama, akhirnya meledak dan membuat dia harus bertindak.

Ya, dia harus melakukan sesuatu. Tidak akan lagi hanya diam tanpa bergerak. Dia memberontak. Memberontak pada kenyataan hidup yang harus dia jalani. Meninggalkan lelaki yang dia cintai, sebagai bukti bahwa dia mencintai dirinya sendiri.

Dia telah membuktikan semua perbuatan kotor lelaki yang ia cintai dengan sepenuh hati. Dia telah saksikan dengan matanya sendiri.

Selama ini, dia hanya membawa kecurigaan dalam hati. Perlahan, semua bukti telah ia dapatkan. Lelaki yang dia banggakan, lelaki yang rajin beribadah, ternyata rajin pula melakukan zina. Menggoda semua perempuan yang ditemui, mengajaknya bertemu dan bercumbu. Berkenalan dan bercengkerama menjadi hal yang teramat biasa bagi pria kebanggaan.

Hah! Kebanggaan? Bukan lagi kebanggaan! Lelaki itu hanya seorang pecundang! Lelaki yang membuat perempuan mungil baik hati itu lemah. Lemah untuk mengutuk, lemah untuk marah, bahkan lemah hanya untuk menumpahkan airmata di pipinya.

Ah… Shit!

Kecewa di hatinya telah menggunung. Terpurukkah dia? Kepada siapa dia harus menyandarkan hatinya yang hancur berkeping-keping? Selama ini hanya lelaki bejat itu tempatnya menggantungkan harap.

Namun kini, dia harus mengakhiri semua. Dia sudah tak mampu menanggung lara. Dia merasa, sekaranglah waktu yang tepat untuk pergi. Pergi dari kehidupan yang menghancurkan hati dan dirinya. Pergi dari sisi lelaki yang pernah dia cintai.

Pergi!

Sekarang!

Tak perlu lagi melihat ke belakang!
Hanya itulah yang harus dia lakukan. Agar tak perlu lagi bertemu atau bertatap mata dengan lelaki gila pemberi harapan palsu. Biarlah gelap malam menyelimuti seluruh pedih di hatinya. Dia telah ijinkan angin malam membawa seluruh luka. Semoga saat pagi menjelang, senyum telah mampu menghias wajah ayunya.

Pagi kapan?

Entahlah.

Dia hanya perlu untuk meletakkan semua pada tempatnya. Termasuk dirinya sendiri. Bukan disini, bukan bersama dengan lelaki yang telah menghancurkan kehidupannya, tetapi di suatu waktu dan suatu rumah yang lain.

Tak apa, dia terpuruk saat ini, tapi dia harus bangkit kembali. Nanti, saat semuanya terasa lebih ringan baginya. Nanti, saat bayangan lelaki gila itu telah sirna dari hidupnya. Dia pasti berusaha raih bahagia dalam kesendiriannya. Dia yakin pasti bisa melewati semua.

 

****

Wimala Anindita
Bandung, 070720

0