MERAK

Namaku Merak, hidup terkungkung dalam sebuah sangkar besar. Mereka bilang, kawananku sudah musnah dari muka bumi. Punah, kalau bahasa mereka.

Yah, aku mengerti, kawananku memang hanya sedikit. Sepertinya bisa dihitung dengan jari. Mereka bilang agar bisa menjagaku, maka aku dimasukkan kandang.

Entahlah kata-kata itu benar atau tidak.
Yang aku tahu, aku dijadikan tontonan!

Orang-orang di luar pagar itu selalu berharap aku mengangkat dan melebarkan ekorku.

Indahnya!

Bagus sekali!

Merak cantik!

Wow, warnanya indah!

Semua orang berteriak dan berkomentar saat aku mengembangkan ekorku yang berwarna warni dan terlihat bersinar.

Satu-satunya hal yang aku benci adalah saat orang-orang di luar pagar itu mengira bahwa aku betina!

Aish!

Aku jantan tulen!

Lihatlah betinaku! Dia sedang duduk di ujung kandang dengan bulu hijau coklatnya, sedang terpesona memandangku tanpa kedip.

Aku jantan sejati! Dengan bulu berwarna warni!

Hai kalian! Akui aku sebagai jantan! Bukan betina!

 

****

 

Wimala Anindita
Bandung, 250620

0