The Player, Prosa LIris, Bunga Yang Bertebaran

BUNGA YANG BERTEBARAN ( Bagian 2 )

Hmmm… rahasia ya, aku juga sudah merasakan bibirnya! Aku sudah meraba tubuhnya! Dia milik pacarnya, tapi aku bias ikut menikmati dirinya. Aku juga sudah dia nikmati meski aku punya pacar.

Kami hanya saling menguntungkan satu sama lain. Kami tidak saling merusak hubungan masing-masing. Tapi kami juga tidak bisa dipisahkan. Lebih tepatnya kami tidak mau berpisah.

Kami pernah mengalami masa di mana matahari terik di atas kepala tetapi terasa bagai langit penuh bintang ditemani bulan purnama yang menjadi saksi atas bersatunya dua insan tanpa ikatan dalam sebuah cerita yang panas membara.

Bagaimana mungkin kami menjauh jika kami saling bergantung satu sama lain. Dia butuh aku, aku pun membutuhkan dia. Yah, aku butuh Sri saat tak ada Rieka di sampingku. Sri rela dan mau bahkan kami sudah berjalan selama ini tanpa ada perjanjian dan ikatan apapun.

Hubungan menyenangkan ini berlangsung sampai kami lulus kuliah. Aku mulai kerja ke kota lain, dan Sri juga mulai kerja ke kota yang lain pula.

Bertahun-tahun aku tidak bertemu dan juga tidak saling menghubungi. Sampai aku mendengar dia akhirnya menikah dengan pacarnya saat kuliah. Saat itu, aku juga sudah merncanakan pernikahanku dengan Rieka. Pacarku yang resmi, aku sebut begitu karena ada Sri dalam hidupku yang menjadi pacar bayangan.

 

***

 

Duniaku sedikit berubah ketika aku menikah dengan Rieka. Aku yang sangat iseng dan menginginkan sebuah kehidupan yang ceria dan agak ramai, sedangkan dia yang masih tetap seperti biasanya. Jutek dan judes, jarang tersenyum dan tidak begitu suka berteman.

Aku pikir, dia akan sedikit berubah. Ternyata aku berharap terlalu tinggi kepadanya. Sedikit kecewa menjadi beban dalam hati dan pikiranku.

 

***

 

Aku beberapa kali berganti pekerjaan. Harta dan kekuasaan kakak-kakakku tidak banyak membantu dalam dunia kerjaku. Bukan berarti tidak ada arti sama sekali. Hanya saja bantuan yang datang tidak sebesar dulu.

Jika dulu aku menerima air bah yang tidak berhenti, sekarang aku hanya menerima aliran air sungai yang mengalir. Kadang kencang penuh gelombang, tetapi kadang-kadang tenang tanpa arus.

Satu hal yang selalu aku temui di mana pun aku berada. Perempuan!

Berpindah tempat kerja dari satu tempat ke tempat lain, dari satu daerah ke daerah lain. Selalu ada perempuan menempel kepadaku. Aku mengira, semua ini adalah takdir yang sudah digariskan akan selalu terjadi kepadaku. Tentu saja aku tidak bisa menolak rejeki yang diberikan kepadaku.

Perempuan yang aku temui dan menempel padaku, sangat mudah aku dapatkan. Meski badanku tidak ideal, tetapi harta benda yang aku tunjukkan cukup ideal bagi mereka. Aku lelaki yang gemar bercanda, perempuan suka itu. Aku membawa kendaraan yang sebagian orang belum mampu memiliki, permpuan suka juga.

Pokoknya mereka sangat mudah aku taklukkan. Perempuan beristri saja masih tergoda olehku, apalagi janda yang butuh kasih sayang juga harta benda.

Gampang!

Masalah kecil bagiku!

Hanya satu yang agak sulit, dia berbeda dari yang lain. Dia perempuan yang memiliki jabatan, tidak kekurangan apapun, merasa tidak begitu membutuhkan laki-laki karena dia sudah bersuami. Dia tidak butuh harta benda, dia juga tidak butuh kasih sayang. Yang membuat aku tambah suka padanya adalah, dia perempuan yang pintar! Tapi sekuat apapun dia, akhirnya dia aku taklukkan.Dia takluk karena kepiawaianku melontarkan banyolan dan segala hal yang mampu membuatnya tertawa bahagia. Tetapi aku menemukan perempuan yang sulit ini dalam perjalanan karirku yang juga sudah mapan. Maka tak begitu banyak cerita tentang dia.

Para perempuan itu akan bercerita sendiri nanti, biarlah mereka menceritakan tentang hubungan kami dari sisi masing-masing.

Kehidupanku sudah jauh lebih baik, Rieka istriku juga berubah. Meski temannya masih tetap sedikit, dia sudah banyak tersenyum. Aku pikir, Rieka pasti sangat mencintaiku. Dia bagai kawat yang melilit besi, mencengkeramku begitu kuat.

Aku merasa agak tertekan karenanya. Mungkin itu juga sebabnya aku memilih untuk mencari perempuan lain di luar rumah. Mereka bisa membuat aku nyaman dan tentram. Tentu saja, aku bisa marah kepada mereka. Hal yang tidak mampu aku lakukan pada istriku.

Yah, di semua tempat manapun akhirnya aku punya perempuan simpanan.

Hmmm… sebenarnya tidak bisa juga disebut sebagai simpanan. Seharusnya perempuan yang bersedia menempel dan memberikan kebahagiaan, kenyamanan, serta kehangatan kepadaku. Ya, sepertinya istilah tersebut lebih tepat.

Tentu saja, semuanya tidak terjadi secara serta merta, tetapi bertahap. Dari waktu ke waktu, dari satu tempat ke tempat lain, dari bulan ke bulan, dari tahun ke tahun.

Bayangkanlah! Berapa banyak perempuan tersembunyi di luar sana.

Hahaha!

Salah sendiri, istriku tidak menyadari kebejatanku di luar rumah. Salah sendiri, dia memberiku kebebasan bergaul. Ups, salah. Dia tidak memberiku kebebasan bergaul. Yang benar adalah, dia terlalu mengikatku. Sehingga saat aku sedikit saja merasa bebas, aku akan berlaku bagai kuda lepas dari kandang.

Aku kadang-kadang juga merasakan rasa sepi yang teramat sepi. MEski di semua tempat aku memiliki perempuan yang mendampingi, tetapi aku tidak merasakan kehangatan serta kasih saying seperti masa kecilku dulu.

Dulu, semua akak-kakakku selalu berada di sekitarku. Semua kemauanku dipenuhi, saat aku marah, sedih, bahkan menangis, mereka akan bergantian menggendongku dan memelukku.

Tapi kini, begitu banyak perempuan di sekitarku, tetapi mereka tidak bisa berkumpul bersama. Saat aku bersama Rieka, aku tentu saja tak bias bercumbu dengan Sri.

Begitu juga saat aku berkencan dengan Sri, aku harus menahan keinginan bertemu yang lain.

Ah, aku merasa sepi!

Selalu sepi!

Meski aku banyak bercanda dan tertawa, tetapi hatiku terasa hampa.

Kosong!

Siapa yang akan mengisi kekosongan ini? Ugh! Tentu saja aku akan terus mencari. Hahaha.

 

Percaya?

 

Wimala Anindita

Bandung, 050820

 

 

0