The Player, Prosa LIris, Bunga Yang Bertebaran

BUNGA YANG BERTEBARAN

Di sekolah menengah tingkat atas aku mulai tertarik pada perempuan. Aku tahu, banyak sekali perempuan yang menginginkan diriku. Padahal kalau dilihat secara sekilas, aku tidak terlalu ganteng. Nah, inilah kekecewaanku yang terdalam.

Aku pernah berujar dengan bangga saat kecil bahwa aku ganteng, dan aku akan menjadi lelaki yang sangat ganteng.

Ternyata tidak!

Aku memiliki tinggi badan yang hampir sama dengan para perempuan. Hanya sekitar 150 cm atau 155 cm. Ah, pokoknya tidak lmencapai 160 cm. Menjengkelkan sekali saat memikirkan hal ini. Namun apa mau dikata, memang beginilah badanku. Kesimpulan sementara dariku, para perempuan menempel padaku karena aku lelaki muda dengan harta berlimpah.

Mereka, para perempuan itu selalu menempel padaku pasti karena keisenganku dan tentu saja harta kakakku. Mungkin mereka sejenis lalat hijau yang hanya mendekati sampah berbau. Terbang berkeliling dengan berisik, mengelilingi sampah dan minta perhatian. Seperti itulah mereka padaku, berisik dan selalu menempel karena aku memiliki semua barang mewah yang terlalu mahal untuk bisa mereka miliki.

Ataukah aku harus menyebut mereka dengan sebutan bunga-bunga?

Aku rasa tidak. Sebutan bunga terasa terlalu indah bagi mereka.Rasanya tak butuh waktu terlalu lama, aku bisa menyebut satu, dua, atau beberapa perempuan sebagai bunga yang mengelilingi hidupku.

Sebenarnya ada seorang teman perempuan yang rajin menempel padaku. Dia tiap hari datang ke rumah.

Namanya Sri. Teman sekolahku, yang hampir tiap hari datang ke rumah. Naik motornya. Dia beranjak keluar dari pintu rumahku ketika matahari mulai turun ke peraduan, dan sinar mulai pudar. Kadang-kadang dia membawa teman lain untuk berkunjung. Mungkin dia pun kurang nyaman kalau hanya berdua di kamarku, atau dia menghindari omongan orang-orang di sekitarku. Ah, biarlah apa saja mau dia. Aku tak keberatan.

Aku sih senang, karena dengan kehadirannya hampir semua kebutuhanku bisa terpenuhi. Tanpa aku harus capek keluar keringat maupun keluar uang. Badan tetap segar, perut kenyang, hati bahagia. Benar-benar hidup impian. Tinggal satu saja lagi, mati masuk surge. Hahahaha…

 

***

 

Meskipun ada satu perempuan yang selalu berada denganku, kemana pun aku pergi dia selalu ikut, sebenarnya aku sudah punya perempuan lain yang ingin aku dekati. Dia seorang perempuan sesama sekolah menengah atas dari sekolah lain.

Aku melihat dia saat berjalan pulang ataupun berangkat sekolah. Dia bersekolah tidak jauh dari sekolahku, jadi aku bisa sering melihat dia. Belum berkenalan, hanya melihatnya saja. Gadis itu, memiliki rambut yang lumayan panjang, tidak terlalu panjang tetapi bisa dikuncir kuda. Kadang-kadang dikepang dua. Duh, lucunya dia.

Jarang tersenyum, sepertinya temannya tidak terlalu banyak. Dilihat dari wajahnya, sepertinya dia perempuan yang agak judes dan jutek. Hahaha.

Karena kejutekannya itulah, aku berrencana untuk bias mengenal dia. LIhat saja nanti, dia pasti bertekuk lutut kepadaku. Bahkan tidak mau jauh dariku.

Waktunya berjuang, kawan!

Garis-garis kecil dalam kepalaku mulai mengirimkan sinyalnya satu sama lain. Cari jalan keluar! Aku harus bisa berkenalan dengan dia!

Nah! Akhirnya aku temukan caranya!

Besok, aku akan berganti kelas dan berganti sekolah! Aku akan masuk ke sekolah perempuan itu dan duduk manis di kelasnya. Aku akan mendampinginya, kasihan kan kalau dia selalu sendirian.

Baiklah, sekarang waktunya untuk berjalan-jalan serta bergandenga tangan dengannya. Saat aku memejamkan mataku malam ini. Tak sabar menunggu matahari bersinar besok pagi.

 

***

 

Ketika bulan mulai malu menunjukkan diri, di situlah waktuku untuk segera beranjak. Ada sebuah rencana besar yang harus aku lakukan. Duduk manis di kelas perempuan beda sekolah itu.

MIsi segera dilaksanakan. Aku membolos dari sekolahku, tapi aku masuk ke sekolah lain dan duduk manis di kelas. Aku bias dengan mudah mendapatkan tempat duduk. Seperti biasa, tidak ada yang mampu menolak keinginanku. Hahaha.

Akhirnya misi terlaksana. Aku bias memandangnya dari dekat. Aku tahu namanya, Rieka. Dia segera menjadi pacarku! Dia sudah mulai memperhatikan aku, ketika aku ditegur oleh guru kelasnya.

“Hai! Kamu siapa? Murid dari mana kamu? Kamu bukan murid kelas ini, bahkan bukan juga murid dari sekolah ini!” Guru itu nyerocos terus. Menyebalkan!

Biarlah, aku diusir dari sekolah itu, tapi perempuan itu sudah melihatku, tahu namaku dan juga tahu di mana aku bersekolah. Aku pun sudah tahu nama dan kelasnya. Jadi, nanti siang kalau ketemu lagi di jalan sudah bisa menyapa dong. Hahaha.

Perempuanku yang lain, ya biarkan saja. Mereka kan yang mau mendekat dan menempel padaku? Bukan aku yang mau kok. Aku sih senang saat mereka selalu ada untukku. Seperti yang selalu aku katakan, aku beruntung. Semua ada bagiku, tanpa harus berusaha keras.

 

***

 

Memang begitulah kehidupanku. HIngga aku kuliah, semua terjadi dengan keadaan yang sama. Para perempuan masih selalu mengelilingiku.

Oh iya, perempuan dari sekolah di dekat sekolahku itu akhirnya menjadi pacarku! Namanya Rieka, kuliah beda kampus denganku. Tiap hari Sabtu malam aku apel ke rumahnya. Biasalah anak muda.

Hubunganku dengan teman-teman permpuan tetap berjalan seperti biasa. Aku semakin intim dengan Sri, teman sekolah menengah atas dulu.Di mana ada aku, dia ada. Dimana ada dia, aku pun ada. Nagai love bird yang tak bias terpisah. Tak pernah ada janji di antara kami, tapi kami selalu ada satu sama lain.

Dia pun tahu bahwa aku sudah menjalin asmara dengan Rieka. Tetapi kami tetap tak bias menjauh. Hubungan kami sebenarnya lebih daripada pacar. Mungkin beginilah hubungan cinta yang tersembunyi.

Pada akhirnya saat Sri juga punya pacar, dia masih saja menempel padaku. Hubungan kami adalah hubungan teman yang lebih teman. Apakah begini yang disebut teman tapi mesra? Mungkin saja benar adanya.

Hmmm… rahasia ya, aku juga sudah merasakan bibirnya! Aku sudah meraba tubuhnya! Dia milik pacarnya, tapi aku bias ikut menikmati dirinya. Aku juga sudah dia nikmati meski aku punya pacar.

Kami hanya saling menguntungkan satu sama lain. Kami tidak saling merusak hubungan masing-masing. Tapi kami juga tidak bisa dipisahkan. Lebih tepatnya kami tidak mau berpisah.

 

Wimala Anindita

Bandung, 040820

 

0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *