Novel Prosa LIris, The Player, Kehangatan Di Masa Menengah

KEHANGATAN DI MASA MENENGAH ( Bagian 3 )

Masa-masa sekolah menengah yang menyenangkan dan tentu saja tidak akan pernah terlupakan. Sedikit demi sedikit ada rasa ketergantungan yang aku rasakan kepada Didan. Aku tidak bisa dan tidak boleh terlalu jauh darinya. Aku tidak mau berpisah dari dia.

 

***

 

HIngga waktunya bagi kami untuk meninggalkan sekolah menengah dan meneruskan sekolah sesuai keinginan masing-masing. Aku memilih untuk mengambil jurusan Kimia di sebuah universitas yang berbeda dengan keinginan Didan. Dia sudah kuliah di tempat lain, dan dia sudh menjalaninya selama satu tahun. Yah, Didan adalah kakak angkatanku beda satu tahun dan beda sekolah tentu saja.

Aku sedikit kecewa karena tidak bisa berkuliah di tempat yang sama dengannya. Padahal sejak awal aku ingin kuliah di kampus yang sama, berjalan bareng dengan pacar tiap kali berada di kampus, sepertinya menyenangkan.

Sayang sekali aku diterima di kampus yang berbeda dengan dia.

Aku sempat menangis, dan rasanya tak percaya. Mengapa aku tidak bisa menemani pacarku di setiap waktunya? Namun dia selalu bisa menenangkanku.

“Rieka sayang, sudahlah jangan menangis. Tempat belajarmu memang berbeda dengan tempat belajarku. Tetapi hatiku tetap selalu menemanimu. Malah kalua kita jarang bertemu, bukankah kita menjadi semakin rindu satu sama lain? Dan kita akan bercumbu dengan lebih panas saat bertemu. Aku sayang kamu, aku pasti sangat merindukanmu. Selalu.”

“Tapi kamu selalu berjalan dengan perempuan lain. Aku juga ingin menemanimu seperti dia. Aku tak mau kau selalu bergandeng tangan dan merangkul dia saat aku tidak di sampingmu,” aku merajuk kepadanya.

“Hem, dia temanku. Bukankah sudah sering aku katakan kepadamu? Semua perempuan itu hanya teman. Aku tetap memilihmu untuk menjadi pacarku. Sudah ya, hentikan airmatamu. Kita mau makan kemana sore ini? Aku sudah tak tahan, ingin menciummu. Merasakan hangat bibirmu, Say.”

Begitulah Didan. Selalu bias menenangkan hatiku yang sedang resah. MUngkin aku selalu mempercayainya karena saat dia mencumbuku, aku merasa benar-benar percaya kepadanya. Aku merasakan sebuah kehangatan yang menjalar menjadi sebuah panas membara yang membakar tubuh dan hatiku. Rasa itu hanya aku rasakan dari Didan. Yah, dia memang pacar pertamaku. Kata Didan, aku juga pacar pertamanya, dan kehangatan yang menyenangkan itu dia juga hanya dapatkan dariku.

Dari semua hal yang sudah aku lakukan bersamanya, aku sangat percaya kepada lelaki bernama Didan itu. Bibirku, jemari tanganku, kulitku, tubuhku, dadaku, dialah yang memberikan kepuasan pertama kali pada seluruhnya. Aku tak mau kehilangan dia. Aku tak mau dia meninggalkan aku. Kalau sampai kami putus, bagaimana denganku? Meskipun aku masih perawan, tetapi dia sudah menyentuh dan mencium semua bagian tubuhku. Bagaimana jika lelaki lain yang menjadi suamiku kelak? Apakah dia akan mengetahui bahwa semua yang dia sentuh adalah bekas sentuhan lelaki lain?

Argh!!

Aku sangat tertekan bila memikirkan tentang hal itu.

Maka aku tidak boleh putus dari Didan.

Aku harus mempertahankan dia tetap di sisiku.

Aku harus menjadikan dia suamiku.

Agar tidak ada pertanyaan tentang bekas sentuhan dan bekas ciuman orang lain. Hanya dial ah yang menyentuhku dan merasakan kulum bibirku.

Aku Rieka, gadis yang mencintai lelaki bernama Didan. Aku adalah bunga yang mulai mekar, setelah kuncup yang aku alami disentuh oleh kehangatan bibir dari seseorang yang mengatakan bahwa aku cantik dan dia katakan bahwa aku adalah satu-satunya cinta di hatinya.

 

Wimala Anindita

Bandung, 070820

 

0