Novel Prosa Liris Namaku Sali
Novel Prosa LIris The Player

NAMAKU SALI ( bagian 2 )

Teman, ya aku mulai mengenal beberapa anak kecil lain di sekitar rumahku. Aku bermain di kebun, sambil mencabut singkong atau memetic jagung yang telah mulai berbuah. Tangan kami memang sangat terampil, kami bias melakukan apapun yang kami mau. Ketika pemilik kebun berteriak dan mengejar kami, tentu saja kaki-kaki kecil ini akan segera menjalankan tugasnya dengan sangat baik. Melangkah dengan cepat dan semakin cepat, dengan kecepatan angin yang menembus sela-sela daun bambu. Berlari! Ya, orang-orang menyebutnya begitu.

“Sali! Apa lagi yang kau lakukan hari ini?” tanya ibuku dengan nada tinggi.

“Aku hanya ke kebun melatih kekuatan tangan dan kaki, Bu,” sahutku tenang sambal berlalu.

“Sali! Masuk kamar! Jangan keluar kalau Ibu belum menyuruhmu!” suara ibuku semakin keras.

Aku tak bisa dan tak boleh membantah kata-kata ibu. Maka aku berjalan gontai menuju kamar. Aku tutup pintunya, dan aku rebahkan tubuhku di atas Kasur kecil yang empuk. Serasa tidur di atas awan, lembut, empuk, dan menenangkan.

Hukuman yang sangat menyenangkan. Tidak boleh keluar dari kamar adalah sebuah perintah berlatar hukuman agar aku tidur. Seharusnya ibu tahu bahwa aku pun suka tidur. Jadi menurutku hukuman dari ibu bukan sebuah hukuman tetapi hadiah yang harus aku gunakan sebaik-baiknya. Seperti kado ulang tahun berbungkus kertas koran, terlihat buruk dari luar tetapi berisi keindahan luar biasa. Tidur dengan nyenyak dan nyaman, agar bisa bermain lagi besok pagi. Ah, ibuku memang malaikat tak bersayap yang paling baik di seluruh dunia.

Tidur, tidur, dan tidur tanpa gangguan.

Aaaahhhh… enak sekali saat aku meluruskan badanku. Punggungku yang tadinya penuh beban, kini terasa lebih ringan. Ibu, terimakasih untuk hadiah menyenangkan ini. Andai aku bisa kembali digendong dan selalu dipeluk seperti dulu. Sayang sekali aku sudah besar. Umurku lima tahun, bukan masanya untuk digendong dan dipeluk layaknya bayi.

Membayangkan aku dipeluk dan diciumi saja membuatku bergidik. Ngeri! Anak-anak sekali! Hah! Aku sudah besar.

Lebih baik aku merencanakan kegiatanku besok pagi. Bermain bersama teman-temanku, tentu saja pilihan terbaik. Hmmm… karena hari ini kami sudah melatih tangan dan kaki di kebun, sepertinya besok kami akan bermain di balong desa saja. Sepertinya menyenangkan. Bermain lumpur sambal menggoda ikan di dalamnya.

Bermain kecipak air dan berlumur lumpur di seluruh badan adalah kebahagiaan bagi anak-anak. Aku adalah anak-anak, bagian dari penikmat kepuasan bermain air. Maka besok aku akan bermain air, agar aku menjadi anak yang selalu bahagia.

 

===

 

Pagi ini, aku mengumpulkan teman-temanku. Ah, mereka tak pernah punya pendapat sendiri. Semuanya hanya mengikuti saja apa mauku. Mungkin mereka begitu karena diminta oleh orangtuanya. Aku tak tahu kepastiannya. Tetapi kemungkinan besar, memang itulah yang terjadi.

Yah, orangtuaku adalah salah satu orang terpandang di desaku. Maka senakal apapun aku, tidak ada satu pun yang berani menghukumku. Mereka hanya akan melaporkan kepada ibuku semua yang terjadi padaku tiap hari. Kemudian ibuku yang akan memberikan hukuman berbalut hadiah kepadaku. Sungguh, hidupku sangat menyenangkan!

Orangtua kaya raya, terpandang, dan tidak ada yang berani menyentuhku. Hampir sempurna.

Lamunanku buyar saat seorang temanku mulai membuka mulutnya.

“Kita mau melakukan apa hari ini, Sali?”

“Kita punya dua pilihan, teman. Bermain air dan lumpur di balong desa atau panen rambutan di depan masjid,” kataku sambal nyengir.

Mereka melongo, lima wajah melongo di depanku itu tak berkata apapun. Ya lima mulut mengerucut bagai ikan sapu-sapu di akuarium itu sangat menggelikan. Hahaha.

Sampai salah satu dari mereka mulai mengeluarkan suara.

“Sali, kamu yakin? Bagaimana kalua kamu dihukum lagi?”

“Tenang saja, aku sangat menikmati hukumanku. Ayolah kita ke balong saja. Kalian semua mirip ikan! Sepertinya akan mengasyikkan kalua kalian bertemu saudara-saudara kalian di sana! Hahaha…” aku tertawa dan menggandeng salah satu dari mereka.

Dan jadilah kami bermain lumpur dan menari bersama ikan-ikan yang berenang kesana kemari di dalam balong. Tarian yang begitu indah. Kami meliuk dan berseluncur dalam lumpur. Bagai belut yang meliukkan tubuhnya di lumpur sawah.

Melompat ke sana kemari, membuat kami lupa bahwa kami sedang bermain di balong desa. Begitu banyak orang lalu lalang dan memperhatikan kami.

Uh!

Pasti satu atau dua orang sudah melaporkan aku kepada ibuku!

Ah, benar saja. Aku melihat ibu berjalan menuju balong. Tapi aku tidak bisa bersembunyi. Taka da pohon bamboo atau semak belukar di sekitar balong. Aku tepat berada dalam tangkapan mata seorang perempuan bernama ibu.

Pandangan matanya benar-benar membuat hatiku jatuh! Runtuh seketika!

Ah, ibu. Kau memang begitu memesona.

Aku keluar dari balong, dan berlari kepada ibuku. Senyum manis bagai madu lebah aku persembahkan kepadanya.

Ditariknya tanganku dan dibawanya aku pulang.

Dia membawaku ke dalam kamar mandi dan mengguyur tubuhku dengan air. Tanpa banyak kata.

“Itu orang atau patung? Kok tak ada mata dan mulut ya?” kakakku mulai menggodaku.

Badanku yang tak terlihat karena aku tertutup lumpur, menjadikan aku bahan olok-olok bagi mereka.

“Ibu! Tutup pintunya! Aku tidak mau ketemu eceu dan akang!” seruku kepada ibu.

Namun ibu tidak sedikit pun menutup pintu kamar mandi.

Aku telah berhasil menjadi ejekan bagi kakak-kakakku. Berbahagialah kalian semua.

Setelah mandi, aku pun akan bahagia. Karena aku akan dihukum di kamar, dan aku bisa tidur sampai waktu makan tiba.

Haha, indahnya hidupku.

Bahagianya masa kecilku.

 

 

Wimala Anindita

Bandung, 010820

 

0