Panggil Aku Dan
Prosa LIris Panggil Aku Dan The Player

PANGGIL AKU, DAN ( Bagian 2 )

Kini aku sudah menjelma menjadi lelaki yang beranjak dewasa. Aku tak lagi tinggal di desa. Aku telah pindah ke kota. Ya, aku sekolah lanjutan atas di kota Bandung. Ibukota Jawa Barat, tempat kakak-kakakku bekerja.

Keadaanku di kota hampir sama dengan di desa. Kakak-kakaku orang kaya dan punya kuasa. Aku bisa berpindah dari satu rumah ke rumah lain tanpa takut. Semua kebutuhanku dan semua kemauanku masih terus terpenuhi tanpa kendala.

Motor tersedia, bahkan mobil selalu ada dan bisa aku gunakan kapan saja aku inginkan. Banyak sekali orang yang menempel padaku. Terutama perempuan! Seperti biasa, mereka bersedia melakukan apapun untukku.

Ah, sungguh aku sangat beruntung.

Kapanpun dan dimanapun aku berada, aku selalu dikelilingi teman-teman yang siap sedia selalu ada untukku.

Di sini, di kota Bandung jangan pernah panggil aku dengan nama Sali. Aku Didan! Kalian boleh panggil aku Dan. Bukan dan lain-lain seperti dalam pelajaran Bahasa Indonesia ya. Cam kan itu. Aku bias sangat marah jika nama panggilan rumah itu terdengar telingaku diucapkan oleh teman-teman.

Aku hanya bias menerima panggilan Sali dari keluargaku. Cukup mereka saja yang boleh melakukannya. Orang lain? Tidak boleh!

Bahkan semua barang pribadiku sudah aku tuliskan namaku, Dan. Kadang-kadang aku tuliskan Dan’s untuk barang-barang tertentu. Dan’s sebuah tanda kepemilikan. Artinya barang ini milik Dan! Harus ada kemajuan dalam hidup, sedikitlah belajar bahasa asing. Agar bisa mengerti maksud-maksud tulisan yang banyak di pinggir jalan.

Keisenganku di sekolah menengah atas ini sebenarnya agak keterlaluan. Tetapi hal-hal itu membuat aku semakin terkenal dan semakin dipuja para perempuan. Hahaha. Nikmatnya hidupku.

Pernah suatu hari, aku nyalakan motor vespa seorang teman saat dia sedang belajar di kelas. Aku tentu saja tidak ada di kelas, sedang berkaliling saja mencari hal yang menarik.

Hari itu, temanku yang sedang diam di dalam kelas sangat menarik bagiku. Aku cari motornya, kebetulan motor dia diparkir dekat kelas. Jadilah aku starter vespa itu, dan temanku yang berada di dalam kelas tentu saja terganggu dengan suara vespa yang keras itu. Pemilik vespa pun kaget dan langsung berlari keluar. Aku? Tentu saja langsung berlari juga untuk sembunyi. Teman-teman yang lain tentu saja tertawa terbahak-bahak. Guruku hanya geleng-geleng kepala. Paling-paling aku nanti dipanggil ke ruang guru. Ah, itu sih urusan kecil!

Mereka terlalu rajin, sok rajin malah. Tetap saja nilai mereka hanya pas-pasan. Aku yang jarang masuk kelas sesuai jam pelajaran saja masih bisa mendapatkan nilai lebih tinggi dari mereka.

DI kesempatan lain, aku pernah membuat motor seorang teman “hilang” dari parkiran. Semua orang sudah ramai dengan kehebohannya masing-masing.

Semua orang mencari motor yang hilang. Sedangkan si pemilik motor hanya duduk dengan gelisah di ujung koridor. Aku melihat dia menyapu wajahnya dengan kasar.

Hahaha. Aku sangat menyukai keadaan ini! Sebuah permainan yang selalu bisa memuaskan hasratku untuk menggoda dan mempermainkan perasaan orang lain.

Tiba-tiba kembali terdengar keributan atas sebuah kekacauan yang lain. Para perempuan itu berisik sekali! Mengapa mereka harus selalu seberisik ini sih? Apa sebenarnya kemauan mereka?

Aku melihat semua orang berlari kea rah toilet perempuan!

Ah… rupanya motor yang aku sembunyikan di toilet perempuan itu sudah diketemukan. Hahaha, sangat menggairahkan bukan?

Motor seorang lelaki aku sembunyikan di toilet perempuan saat jam pulang sekolah. Waktu di mana mereka jarang masuk toilet, karena terburu-buru untuk pulang.

Temanku. Si pemilik motor berlari ke toilet dan akhirnya dia berteriak lantang,

“DIDAN!”

Yah, aku ketahuan deh. Hahahaha.

Waktunya untuk melarikan diri.

Masih banyak lagi kelakuan yang menurut banyak orang adalah sebuah bentuk kenakalan bahkan kelicikan. Namun bagiku, semua yang aku lakukan adalah sebuah bentuk kecerdikan belaka. Hanya aku yang melakukan berbagai ide cemerlang, tidak ada satu pun teman-temanku yang bisa mengikuti kecemerlangan otak Didan.

 

***

 

Hmmm…

Sebentar, aku harus mengingat ingat dulu, kejadian apa lagi yang bisa aku ceritakan. Ada begitu banyak hal yang aku lakukan, dan semuanya berkaitan dengan keisenganuntuk orang lain  dan kesenangan bagiku sendiri.

Oh iya! Hari itu kami akan melakukan praktikum pelajaran Biologi. Membedah hewan.

Di laboratorium sudah tersedia beberapa ekor kelinci. Isi kepala ini langsung berputar, mencari celah di berbagai ujung dan sela-sela kepala.

Aha! Akhirnya lipatan-lipatan dalam kepalaku ini langsung bekerja dengan ajaib.

Aku membawa semua kelinci keluar dari laboratorium. Beberapa teman membantuku membawanya.

Aku membuat sebuah pertandingan. Ah, bukan pertandingan tetapi seperti pacuan kuda, tetapi kami manggunakan kelinci sebagai kudanya.

Adakah yang melawan pendapatku? Ternyata tidak ada. Maka pacuan kelinci dimulai. Hahaha. Semoga guru tidak segera datang, agar keseruan kami tak terganggu. Tak akan menyenangkan kalua guru melihat kelakuan kami dan memarahi kami saat sedang asyik bermain.

Tetapi memang di depan laboratorium hari itu seru sekali. Semua orang berteriak dan melompat-lompat. Mereka memberi semangat kepada kelinci aduan kami.

Hahaha, terlalu seru untuk ditinggalkan.

Meski pada akhirnya tetap saja kami dimarahi oleh guru,  tetapi hanya aku lah yang mendapatkan hukuman paling berat. Aku harus membersihkan toilet sekolah. SEmua kamar toilet di sekolah! Toilet perempuan dan toilet laki-laki juga toilet guru.

Mereka pikir mudah membersihkan ruangan yang baud an jorok begitu!

Cih! Di rumah saja aku tinggal perintah ke semua orang, tapi di sini, di sekolah ini aku mengikuti perintah guru. Guruku semakin keterlaluan saja. Tapi aku tetap harus ikuti perintah mereka.

Duh Gusti! Hukumanku kali ini sangat berat. Sungguh.

Namun, bukan Didan jika menyerah kalah begitu saja. Aku tak pernah kapok! Tenang saja, akan kembali masanya satu atau banyak keisenganku akan selalu membuat semua orang terhibur. Aku rasa, memang itulah tujuanku dilahirkan di muka bumi ini. Menghibur semua orang! Tentu saja termasuk menjadi magnet bagi para perempuan! Hahaha, itulah yang paling menyenangkan.

Tunggu saja tanggal mainnya.

Dengan satu syarat saja untuk semua.

Panggil aku Didan, atau cukup Dan.

 

 

Wimala Anindita

Bandung, 030820

 

0