Panggil Aku Dan
Prosa LIris Panggil Aku Dan The Player

PANGGIL AKU, DAN

Setelah bersekolah aku mulai tahu tentang nama lengkapku. Aku juga mulai mendapatkan nama panggilan yang berbeda. Nama panggilanku di rumah dan teman-teman main adalah Sali. Sedangkan di sekolah, aku dipanggil Didan. Awalnya bagai baling-baling bambu milik Doraemon, kepalaku berputar-putar karena bingung. Namun sekarang aku sudah mulai bisa menerima semuanya.

Sali, seperti yang sering aku sebut. Adalah nama panggilan dari ibu bapakku juga kakak serta teman-teman mainku. Sedangkan di sekolah, guru dan teman-temanku memanggilku dengan sebutan Didan. Sebuah nama yang akan lebih dikenal oleh semua orang di luar sana. Seperti telur ayam yang lebih dikenal dengan warna kuningnya, padahal warna putihlah yang berada di luar dan melindunginya.

Rudan Didan Salimun Ardiansyah. Itulah nama yang diberikan oleh ibu bapakku. Jangan pernah bertanya tentang artinya. Sebab aku pun tak tahu dan tidak pernah ingin tahu. Tidak sekali pun aku menanyakan kepada orangtuaku. Aku hanyalah debu yang terbawa angin kemana pun dia berhembus. Mengikuti naik turunnya, juga mengikuti panas dinginnya.  Inilah aku, seorang anak lelaki dari seorang ibu yang mencoba menjadi lelaki sejati.

Aku. Sali seorang anak lelaki dengan duabelas kakak dalam keluargaku. Sembilan kakak perempuan dan tiga kakak laki-laki menemani perjalanan hidupku. Merekalah udara yang aku hirup dalam keseharianku. Angin yang berhembus dengan wangi bunga dan berbagai boneka adalah selimut yang memberi kehangatan bagiku.

Yah, kehidupan para kakak perempuan lebih mendominasi kehidupanku. Aku sering didandanin, kemudian bermain boneka, juga bermain sebagai ibu dan bapak. Karena aku anak bungsu, maka semua kemauanku pasti diikuti. Maka, permainan laki-laki yang membuat aku sering terkena hukuman dari ibu tentu saja tetap aku lakukan. Tetapi saat tidak ada teman bermain dari luar, maka kesempatan satu-satunya adalah bermain bersama kakak perempuanku.

Aku seperti mendapatkan ribuan bintang jatuh bila bermain di rumah. Mulutku mengatakan apa pun, pasti menjadi nyata. Inilah kesempatan emas bagiku. Aku bisa mendapatkan hasil tambang yang banyak dan besar. Bila kakak-kakakku tidak mengikuti kemauanku, merka pasti mendapatkan hukuman dari ibu. Aku tahu, gemerisik daun bambu di pinggir desa lebih indah dinikmati dibandingkan genderang bertalu dari mulut ibuku.

 

***

 

Kebiasaan berada dalam lingkungan para perempuan dan apa pun kemauanku selalu harus diikuti berlanjut sampai aku besar.

Namun jangan anggap aku menjadi lelaki melambai, yang lebih suka lulur dan berbedak. Aku masih jantan sejati. Aku pasti buktikan suatu saat nanti. Tunggu saja, seperti kalian menunggu kereta yang akan lewat di stasiun. Tak lama lagi. Akan selalu ada yang lewat, lagi, dan lagi.

Aku tetap memiliki teman lelaki tentu saja. Meskipun bisa dihitung jari, tetap saja aku keadaan itu harus diperhitungkan.

Aku memiliki satu geng yang kami beri nama “DANNIS” saat sekolah dasar. Dannis adalah singkatan nama dari kami berlima. Tak perlu aku sebutkan siapa saja mereka. Aku hanya perlu ceritakan bahwa kami berlima adalah kumpulan para lelaki dan perempuan cilik pembuat sedikit keonaran di lingkungan kami.

Tetap seperti masa kanak-kanak, kami mengambil singkong di kebun atau panen rambutan di depan masjid. Semuanya hampir sama, bahkan hukuman yang diberikan ibuku juga masih sama, dan aku masih tetap menikmati semuanya.

Yang berbeda adalah, aku sudah mulai mendapatkan tugas untuk membersihkan rumah. Ah, tugas yang aku tidak suka. Aku lebih memilih untuk bermain daripada menyapu lantai, tentu saja.

Tetapi bukan Sali alias Didan jika tak punya taktik untuk menyelesaikan semuanya. Hanya aku yang memiliki televisi di desa ini. Semua teman-temanku pasti ingin menonton seperti yang aku lakukan. Yah! Aku punya gagasan yang sangat sempurna.

Aku keluar rumah, melihat sekeliling. Aku lihat beberapa temanku lewat di depan rumah.

“Hai kalian! Kita nonton televisi yuk! Sini semuanya! Ajak yang lain juga!” teriakku memanggil mereka.

“Yang benar nih, Sali. Kami benar-benar boleh ikut nonton di rumahmu?” tanya seorang teman yang aku panggil.

Sambil berkacak pinggang aku menjawab, “tentu saja. Datanglah ke sini. Ajak yang lain juga.”

“Aku ajak yang lain dulu ya, Sal,” jawabnya.

“Cepetan!” teriakku.

Satu menit, dua menit, lima menit, sepuluh menit. Ah lama sekali mereka. Bisa ketahuan ibu kalau mereka tak segera dating. Aku bisa dapat tugas menyapu dan mengepel nih. Aduh, aku sangat malas mengerjakan tugasku itu.

“Sali! Kami datang!” sebuah suara teriakan terdengar dari luar.

Aku segera berlari keluar dan aku harus segera membawa mereka masuk rumah.

“Ya, ayo kalian cepatlah masuk. Tetapi sebelum masuk rumah ada syaratnya untuk semua. Kalian harus mencopot sandal yang kalian pakai. Duduklah sejak awal menginjak lantai rumah. Lalu berjalanlah dengan cara menggeser pantat kalian di lantai, sampai ke ruang nonton. Kalau tidak mau menjalankan syaratnya, tidak usah nonton saja.” Aku yang paling berkuasa atas mereka.

“Iya, kami mau Sali. Kami mau menggeser pantat kami asal kami bisa nonton,” mereka menjawab.

Tentu saja aku tersenyum penuh kemenangan. Tidak perlu menyapu dan mengepel, mereka telah melakukan tugasku dengan melakukan perintahku. Aku bukan licik, tetapi cerdik. Aku bukan pembohong, tetapi memberikan keuntungan lain bagi mereka.

Adil bukan? Sebuah pilihan untuk saling menguntungkan. Aku tak perlu capek membersihkan lantai dan mereka bisa menonton televisi. Aku memang benar-benar pintar, hahaha. Anak laki-laki dari ibu yang sangat baik, telah menjadi anak yang baik pula.

Haha.

Aku pantas berbangga hati atas kecerdikan akalku.

Maka ketika ibu bertanya apakah aku sudah mengerjakan tugasku, dengan bangga aku akan menunjuk kepada teman-temanku yang berjalan dengan menggeser pantatnya di lantai. Inilah anak lelakimu, Bu. Penuh akal licik yang hanya boleh disebut sebagai kecerdikan.

 

***

 

Beranjak besar aku pernah mengajak teman-teman sekolahku untuk melakukan mogok sekolah. BUkan hal yang sangat serius. Aku hanya tidak mau memakai seragam putih biru saat upacara bendera di hari Senin.

Aku hanya mau memakai seragam putih-putih untuk upacara bendera.

Hari itu hari Senin, semua temanku memakai seragam sesuai peraturan sekolah, biru putih. Hanya aku, Didan yang memakai baju putih putih. Aku dihukum berdiri di tengah lapang dan dipanggil ke kantor kepala sekolah.

Aku tidak kapok, minggu selanjutnya aku tetap memakai baju putih putih. Kali ini aku tak sendiri. Beberapa temanku mulai mengikutiku. Pengaruhku memang sangat besar di antara teman-temanku. Terutama untuk teman perempuan!

Mereka rela melakukan apa pun untukku. Untuk kesenanganku, untuk kebahagiaanku.

Karena perjuangan kami yang tak kenal putus asa, akhirnya sekolah membuat aturan baru, Tiap kali hari Senin dan ada upacara bendera, kami semua memakai seragam putih putih. Ya! Baju putih putih itu telah menjadi seragam di sekolah kami.

Hahaha!

Aku memang hebat!

Lelaki ini bernama Sali alias Didan!

 

Wimala Anindita

Bandung, 020820

0