Bab 9. Sri ; Aku Cemburu
Novel Prosa Liris The Player Sri ; Aku Cemburu

BAB 9. SRI ; AKU CEMBURU ( Bagian 2 )

Ah!

Aku pasti merindukanmu, Didan!

“Tidak perlu resah, Sri. Meski kau jauh di sana, engkau tetap selalu berada di dalam hatiku. Kita pasti tetap memiliki kesempatan untuk bertemu. Jangan pernah khawatir. Saat aku pulang ke Bandung atau berangkat ke Cikarang, aku pasti mampir dulu ke Purwakarta untuk menemuimu. Kita masih memiliki kesempatan untuk bercumbu dan bercinta meskipun dalam waktu yang terbatas. Bahkan keterbatasan itu akan membuat kita semakin rindu satu sama lain. Aku yakin, percintaan kita akan semakin panas dan menyenangkan.”

Didan memelukku erat sambil berbisik dengan semua kata-kata yang menenangkanku. Aku sedikit merenggangkan pelukannya, aku melihat ke dalam matanya. Mata yang menatapku lurus, tanpa bergerak ke sisi lain. Aku percaya. Aku percaya kepada pemilik mata itu.

Namun keresahan masih enggan pergi dari hatiku.

“Didan, kau bias mengunjungiku. Kita bias bercumbu dan bercinta saat bertemu. Tapi aku penasaran, apa yang akan kau lakukan saat aku tidak berada di sampingmu? Apakah kau akan mencari penggantiku? Yang akan menyiapkan minuman dan cemilan untukmu? Yang akan menemanimu dalam gelap dan dinginnya malam?”

Ssttt…. Suara berdesis keluar dari mulut Didan. Dia langsung menutup mulutku dengan mulutnya yang kemudian mengulum dan lidahnya bermain-main dalam rongga mulutku.

Ah!

Aku sangat merindunya!

Aku belum pergi, tapi rasa kosong dalam hati ini terus mendera.

Tak ingin pergi darinya, tetapi aku pun ingin mendekat kepada anak-anakku. Baiklah aku akan pegang janji Didan. Aku percaya pada sorot mata yang menunjukkan kesungguhan hati. Aku percaya, dia tidak akan berpaling dariku. Aku percaya, dia tidak akan mencari pengganti diriku.

 

***

 

Waktu terus berjalan, bagai angin yang terus berhembus perlahan. Aku telah menjalankan kegiatan baruku di kota Purwakarta. Kesibukan yang aku jalani tidak mampu menghilangkan Didan dari pikiran. Di mana pun dan kapan pun, aku selalu mengingat dia.

Aku hanya memiliki semangat karena memiliki mimpi dan angan-angan tentang pertemuanku dengan dia di saat akhir pekan.

Memang benar, Didan menemuikku tiap akhir pecan. Hanya satu kali. Saat perjalanan pulang ke Bandung atau perjalanan kembali ke Cikarang. Tidak lama, tapi mampu menghapus rindu yang terus mengganggu.

Saat bertemu dengan waktu singkat, kami menghabiskannya dengan makan bersama atau bercumbu dengan menyewa sebuah kamar motel di sekitar tempat bertemu. Kadangkala kami bercumbu di gedung bioskop. Hahaha.

Mungkin orang yang melihat kami akan berpikir aneh. Umur kami sudah tidak muda lagi, tetapi kami seperti dua anak muda yang sedang dimabuk cinta.

Yah, aku memang dimabuk cinta.

Aku harap Didan pun merasakan hal yang sama denganku.

Aku diapeli setiap akhir minggu selama kurang lebih satu tahun. Hingga kemudian Didan mengabarkan bahwa dia akan pindah tempat kerja di sebuah perusahaan yang dekat dengan rumahnya. Ya! Dia pindah kerja di Bandung.

“Kalau kau pindah kerja ke Bandung, apakah kita masih bias bertemu seperti sekarang, Say?” sebuah tanya penuh kecemasan aku lontarkan.

“Jangan khawatir, Say. Meskipun aku sudah pindah ke Bandung, kita pasti tetap bisa bertemu. Kamu khawatir tentang apa sih, Say? Bukankah kau sudah tahu aku luar dalam? Perlu bukti apa lagi? Tenang saja. Tidak perlu berpikir aneh-aneh. Hanya satu yang aku mau darimu. Jangan pernah merasa cemburu kepada Rieka istriku. Bagaimanapun dia adalah istriku, ibu dari anak-anakku. Sudahlah jangan terlalu berpikir berat.”

Didan tahu betul kekhawatiranku. Justru karena aku tahu tentang dia luar dalam, aku merasakan cemburu yang teramat besar.

Kemarin di pabrik Cikarang, aku bisa mencari tahu tentang dia lewat teman-temanku. Akun tahu dia mulai dekat dengan perempuan lain di Cikarang, dan aku masih memendam rasa marahku kepadanya.

Tetapi bagaimana dengan Bandung? Aku tidak atau lebih tepatnya belum mengenal teman-temannya di Bandung. Bagaimana caranya supaya aku tahu tentang Didan dan kegiatannya selama di Bandung?

Argh!

Kepalaku rasanya mau pecah!

Suatu saat aku pasti menemukan jalan! Pasti!

 

***

 

Wimala Anindita

Bandung, 270820

0