Novel Prosa LIris, The Player, Kehangatan Di Masa Menengah

KEHANGATAN DI MASA MENENGAH

Namaku Rieka. Aku akan ceritakan tentang diriku dan awal mula bertemu Didan. Saat ini, dia sudah menjadi suamiku. Dengan begitu banyak cerita tentang dia dan aku juga banyaknya penyusup dalam kehidupan kami.

Aku tahu? Tentu saja aku tahu. Hanya saja seringkali aku pura-pura tidak tahu. Mungkin jug abanyak hal yang aku tidak tahu mengenai Didan dan para penyusup. Ah, biarlah. Toh dia sudah jadi milikku selamanya.

Awal mula aku bertemu Didan adalah saat dia menyusup ke dalam kelasku, pada suatu saat di jam sekolah. Dia duduk di kursi belakang, menyamping dari tempat dudukku yang berada di barisan kedua dari depan.

Aku sebenarnya tak peduli, toh aku tidak mengenalnya. Melihat dia masuk kelas, kemudian melihatku sambal senyum-senyum, membuat aku ingin menguncir bibirnya yang manyun.

Ketika aku lihat dia duduk di belakang, di sebuah kursi kosong sambil bercanda dengan seorang temanku, aku piker dia anak baru di kelasku. Sekedar meliriknya, aku rasa tak apa.

Lelaki dengan tinggi badan yang sangat rata-rata bahkan bisa dibilang kurang dibandingkan teman-teman lelakiku yang lain. Tetapi penampilannya berbeda. Kemeja putihnya dikeluarkan sebelah, cara berjalannya seperti manusia sombong, dagunya sedikit diangkat ke atas. Seperti orang yang tidak membutuhkan orang lain.

Benci?

Tidak!

Aku hanya merasa ingin muntah saat melihatnya. Kok ada manusia macam begini di dunia ini. Cengengesan tidak jelas.

Sebenarnya, aku juga dianggap sombong sih oleh teman-teman dan orang-orag di sekitarku. Aku memang tidak memiliki banyak teman, dan lebih suka jadi anak rumahan dibandingkan bermain kesana kemari bersama mereka.

Kalau perhiasan, sudah pasti aku suka. Perempuan mana sih yang tidak suka perhiasan. Semua pasti suka. Nanti saat aku sudah bekerja, aku ingin beli banyak perhiasan dan baju-baju cantik supaya aku semakin menarik. Aku berharap, suamiku bisa mengerti tentang hal itu.

Mengapa aku membicarakan suami saat aku menceritakan tentang Didan sih.

Ich, aku benar-benar tidak suka kepada lelaki berandal itu.

Bolos dari sekolahnya, kemudian masuk dan duduk di sekolahku, di kelasku. Apa maksudnya sih. Kurang kerjaan banget. Coba dia tanya kepada bapak-bapak yang menggali jalan itu ya. Banyak pekerjaan di sana. Supaya tidak mengganggu orang lain.

Namun, Didan adalah Didan. Aku melihat dia masih tetap masuk ke kelasku meskipun selalu diusir oleh guru.

Aku juga selalu dia sapa saat bertemu di jalan. Dia memang aneh. Padahal aku tidak mengenalnya, dan dia merasa sangat mengenalku.

“Rieka,” sapanya di suatu pagi, “jalan bareng yuk. Sekolah kita kan satu arah.”

Tentu saja aku kebingungan dan melihat ke sekeliling. Mungkin dia salah orang. Tetapi ternyata dia benar-benar menyapaku. Berjalan disampingku, dengan wajah mengulum senyum. Sedangkan aku kebingungan, tidak tahu cara menghindarinya.

Sampai di sekolah, dia mengantarku sampai ke kelas. Duh, dasar lelaki gila. Begitu pikirku.

Kejadian seperti itu terjadi hampir tiap hari. Sampai akhirnya aku mulai bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan aneh darinya.

Aku tidak menyangka, dengan berjalannya waktu aku mulai dekat dengannya. Aku memanggilnya Didan. Menikmati semua candaan darinya, dan tertawa karenanya. Karena pada dasarnya memang aku tidak memiliki banyak teman, jadi aku juga tidak merasa mengganggu siapapun.

Aku menikmati kedekatanku dengannya. Kenyamanan ini berlangsung tiap saat, dan akhirnya aku merasakan kerinduan saat dia tidak ada di sampingku. Aku mencari-cari keberadaannya. Kadang terasa kecewa dan marah saat dia tak muncul di hadapanku.

Hingga pada suatu hari, aku merasa kaget atas pernyataannya kepadaku yang mendadak.

“Rieka, aku menyukaimu. Aku pun sudah merasa nyaman dengan kehadiranmu. Ayo kita pacaran. Mulai hari ini, kamu jadi pacarku. Oke. Aku tidak menerima penolakan. Jadi mulai hari ini, kamu pacarku. Tidak boleh ada orang lain yang mendekatimu.”

Aku hanya melihat kepadanya, kaget. Mulutku melongo, kaget mendengar pernyataannya kepadaku. Manusia normal atau tidakkah manusia satu ini.

 

Wimala Anindita

Bandung 060820

0