Novel Prosa Liris, The Player, Aku Rieka Istri Tercinta
Novel Prosa Liris The Player Aku Rieka, Istri Tercinta

BAB 5. AKU RIEKA, ISTRI TERCINTA ( Bagian 2 )

Waktu berjalan amat lambat. Meski mengarah pada tujuan yang pasti. Menyatukan dua jiwa yang saling membutuhkan. Dua tubuh yang saling menopang. Dua hati yang mencinta.

Namun meski lambat, nyatanya hari yang aku nantikan terwujud juga.

Penyatuan dua hati. Penyatuan dua jiwa. Penyatuan dua rasa. Penyatuan dua kepala. Mewujudkan sebuah kehangatan bersama. Mewujudkan mimpi menjadi nyata.

Sebuah pernikahan!

Pernikahan impianku!

Impian kami berdua.

Hidup berdua, tanpa jarak memisahkan. Bergandengan tangan tiap saat. Yah, aku sungguh bahagia.

Memasuki sebuah gerbang kehidupan, yang aku tahu tidak akan pernah mudah. Perlu perjuangan untuk dapat mencapai sebuah kesempurnaan. Namun hidup tidak pernah sempurna. Perjuanganku baru dimulai rupanya.

 

***

 

Kehidupan ku berdua dengan suamiku, Yaitu Didan alias Sali berjalan sangat lancar. Bagai air mengalir dari hulu ke hilir. Mengikuti jalan sesuai alur yang telah ditentukan. Aku merasa sangat dicintai oleh suamiku. Aku senang ditemani tiap saat dan kemana pun yang aku inginkan.

Rasanya aku tidak bias mengatakan satu pun keluhan atas kehidupan yang penuh kebahagiaan dan senyum merekah. Meski aku masih sering ditinggalkan saat suamiku harus bekerja ke luar kota, namun semuanya terasa sempurna bagiku.

Yah, sempurna. Lelaki yang selalu dekat dengan banyak perempuan itu akhirnya menjadi suamiku. Milikku! Tidak ada lagi yang bisa mengambil dia dari sisiku. Kepemilikan ini telah resmi di mata hukum, agama, maupun keluarga.

Mengganggu suamiku? Artinya mengganggu keluargaku. Mengganggu keluarga suamiku. Aku yakin, kakak-kakak iparku tidak akan tinggal diam jika hal tersebut terjadi dalam hidupku.

Kalian! Para perempuan penggoda, minggir dan menepilah dari jalanku. Tempat ini sudah menjadi milikku dan aku tidak mau berbagi dengan siapapun. Aku tidak mengijinkan siapapun mengganggu jalanku.

Sekian tahun aku menjalani kehupan yang damai dan bahagia bersama Didan. Waktu pun berjalan begitu cepat, sampai aku akhirnya memiliki dua anak. Seorang perempuan dan seorang laki-laki. Banyak perjuangan yang kami jalani. Naik turunnya jalannya kehidupan, aku lalui dengan selalu tersenyum. Meski kadang pahit, namun semuanya tetap aku telan, sebab aku yakin ada cahaya bahagia di depan sana.

Aku pun berhasil menjadi guru di sebuah sekolah yang lumayan, karena bantuan kakak iparku. Yah, bagaimanapun bantuan dari ipar-iparku masih terus menempel dalam hidupku. Mungkin karena bagi mereka, aku adalah anak kecil. Maklum, suamiku adalah adik bungsu dari tigabelas bersaudara, dan semuanya berhasil menjadi orang-orang berpengaruh. Secara ekonomi, mereka sangat lebih dari sekedar cukup.

Sedangkan aku dan suamiku masih belum bias menyamai kekayaan mereka. Tentu saja aku senang saja saat kakak iparku memberi bantuan kepada kami. Apapun. Seperti yang sudah aku ceritakan, pekerjaanku pun adalah hasil bantuan dari mereka. Bahkan rumah sederhana tempat aku tinggal ini juga sebagian adalah bantuan dari mereka. Suamiku rupanya belum mampu memenuhi semua kebutuhan hidup kami.

Kebutuhan pokok, dia sangat mampu. Tetapi kebutuhan sebagai manusia social yang harus bersosialisasi dengan orang lain dan menunjukkan bahwa kami ukan keluarga miskin, aku tetap membutuhkan bantuan kakak-kakak.

Malu?

Tidak!

Sama sekali aku tidak malu!

Lingkunganku di sini memang begitu. Saat kau tak memiliki sesuatu yang bias kau pamerkan, maka kau hanyalah sampah!

Itulah yang aku pelajari. Maka jika aku bekerja dan suamiku juga bekerja , tentu saja merupakan hal yang wajar. Pertama, agar ilmu sekolah kami tidak hilang begitu saja. Kedua, agar kami mampu hidup mandiri dan tidak selalu bergantung pada kakak-kakak. Ketiga, agar kami dapat meraih kehormatan diri sendiri dengan keringat sendiri.

 

Wimala Anindita

Bandung, 110820

 

 

 

0