Novel Prosa Liris, The Player, Aku Rieka Istri Tercinta
Novel Prosa Liris The Player Aku Rieka, Istri Tercinta

BAB 5. AKU RIEKA, ISTRI TERCINTA ( Bagian 3 )

Itulah yang aku pelajari. Maka jika aku bekerja dan suamiku juga bekerja , tentu saja merupakan hal yang wajar. Pertama, agar ilmu sekolah kami tidak hilang begitu saja. Kedua, agar kami mampu hidup mandiri dan tidak selalu bergantung pada kakak-kakak. Ketiga, agar kami dapat meraih kehormatan diri sendiri dengan keringat sendiri.

Maka jika kemudian Didan suamiku juga sering berpindah tempat kerja, aku tidak boleh mengeluh. Bahkan aku harus dia tinggalkan hampir sepuluh tahun. Bukan ditinggalkan begitu saja, tetapi tiap satu minggu sekali dia akan pulang kepadaku dan anak-anak. Keadaan seperti ini berlangsung sampai sepuluh tahun. Kehidupan kami secara perekonomian tentu saja membaik. Keamanan keluarga pun juga baik-baik saja. Dua anakku juga tidak banyak mengeluh meski harus bertemu bapaknya satu minggu sekali.

Tiap Sabtu malam Minggu aku akan bertemu suami tercinta. Anak-anakku pun akan bertemu bapaknya.

Malam itu akan menjadi malam panjang bagiku dan Didan. Setelah bercengkerama bersama anak-anak, maka seluruh waktu bahkan napasnya adalah milikku. Memberikan sekuruh hidup dan kehidupan kami dalam hangatnya kebersamaan.

Melewatkan dan menghabiskan malam dalam balutan segala rindu yang menghantui. Setelah melewati malam-malam sepi dalam kesendirian. Angin malam yang begitu dingin tak pernah mampu mengganggu keasyikan kami berdua. Belaian jari-jari tangannya selalu mampu membuat aku tak lagi berpikir tentang segala sesuatu. Lumatan bibirnya berhasil membuatku melupakan dunia tempatku berpijak.

Semuanya melayang. Terbakar pada aliran rindu bagai api yang memporak porandakan seluruh bangunan.

Namun sebenarnya, kami tidak hanya bertemu saat akhir minggu saja. Pada hari-hari lain saat aku sangat merindukan Didan, aku akan segera pergi dan menghampirinya di kota tempat dia bekerja. Perjalanan sekitar tiga jam menuju tempat tinggalnya di kota lain, tidak pernah menyurutkan langkahku untuk menunjukkan padanya bahwa aku sangat mencintainya. Memberikan kenikmatan sebagai kejutan di pertengahan minggu, tentu membuat dia bahagia.

Anak-anak? Demi keutuhan keluarga, aku menitipkan mereka selama satu malam kepada ibuku. Kebetulan rumah ibuku sangat dekat dengan rumahku.

Setelah menghabiskan malam di sebuah rumah sewaan, maka pagi harinya aku segera pulang kembali untuk bekerja dan mengasuh anak-anak kembali. Mereka tidak akan terlalu kehilangan aku saat bisa bermain bersama saudara-saudaranya. Aku juga tidak terlalu merasakan capek badan, bahkan merasa lebih bahagia karena mampu memberikan kepuasan serta kejutan manis pada suamiku.

 

***

 

Setelah sekitar sepuluh tahun bekerja di luar kota, suamiku mendapatkan tawaran bekerja di sebuah perusahaan di dekat rumah. Jarak yang tidak terlalu jauh, bisa ditempuh hanya dengan empat puluh menit perjalanan, dengan gaji dan fasilitas yang jauh lebih baik.

Menurutku, kesempatan ini harus diambil. Anak-anak juga sudah mulai besar. Mereka perlu kehadiran bapaknya. Terutama anak gadisku.

Tentu saja aku merasakan kebahagiaan luar biasa ketika suamiku bias bekerja dalam satu kota denganku. Bisa selalu bertemu setiap hari dan tidur bersama dalam satu ranjang tiap hari. Sungguh luar biasa.

Aku tidak bisa menggambarkan bagaimana perasaanku saat ini, aku hanya mampu mengucapkan syukur sedalam-dalamnya atas pemberian Yang Kuasa terhadap hidupku.

Di tempat kerja yang baru ini, suamiku mendapatkan fasilitas mobil dari kantornya. Dengan cara melakukan cicilan pembelian mobil tanpa bunga. Tentu saja aku bahagia. Mobil yang sudah ada, akhirnya jadi milikku. Hehehe.

Aku pergi bekerja menggunakan mobil sekarang. Apalagi setelah suamiku bekerja dekat denganku, dan anak-anak juga sudah mulai besar, pekerjaanku pun semakin bagus. Aku memegang sebuah tempat les ternama di kotaku. Di sekolah, aku pun mulai mendapatkan posisi yang lumayan. Sebagai guru mata pelajaran, aku telah mampu menempatkan diri dalam jajaran organisasi.

Kegiatanku di luar rumah mulai padat, suamiku juga ternyata kegiatannya terlihat padat. Kadang-kadang aku penasaran, mengapa dia tetap masuk kerja di hari Sabtu yang seharusnya menjadi hari libur baginya. Ah, mungkin dia sangat sibuk. Maklum, dia memegang sebuah divisi dengan jumlah karyawan terbanyak di perusahaannya.

Dengan kesibukannya itu,  kadang-kadang aku merasa jengkel juga. Aku tidak suka. Mendekati keluarga, tetapi waktunya tetap habis di luar rumah.

Pada akhirnya aku pun mengimbangi dengan memiliki banyak kegiatan di luar rumah. Dengan begitu aku tidak terlalu kesepian dan tetap merasakan kewarasan serta kebahagiaan dalam hati.

Yah, sebuah kewarasan agar aku tetap mampu menjalani hidupku yang semakin pelik.

Termasuk juga menghadapai perasaanku yang mulai memiliki kecurigaan dan ketidakpercayaan terhadap pasanganku.

Sampai saat ini aku masih belum memiliki bukti apapun tentang semua yang mengganggu jalan pikiranku. Tetapi aku yakin bahwa suatu saat nanti semuanya akan terbuka lebar.

Aku yang benar dengan semua curiga ini atau suamiku dengan semua alibi serta ceritanya.

Aku menunggu waktu.

 

Wimala Anindita

Bandung, 110820

 

 

0