Novel Prosa Liris, The Player, Aku Rieka Istri Tercinta
Novel Prosa Liris The Player Aku Rieka, Istri Tercinta

BAB 5. AKU RIEKA, ISTRI TERCINTA

Sekian tahun aku menjalin cinta dengan lelaki terkasih. Aku pun telah lulus kuliah. Didan juga telah lulus kuliah dan mulai mencari-cari pekerjaan. Sekian lama setelah kaki hampir patah dan tulang punggung telah minta hak untuk berbaring, dia mendapatkan pekerjaan.  Bukan pekerjaan terbaik yang dia inginkan, tetapi sudah lumayan supaya tidak terlihat menganggur.

Satu tahun kemudian, aku juga mulai mendapatkan pekerjaan. Meskipun hanya guru honorer, tetapi sekali lagi sudah cukup untuk saat ini. Menurut pandanganku.

Aku sering merindukan Didan saat keadaan terasa sepi. Bagaimana tidak, orang yang aku cintai bekerja di luar kota. Aku bertemu dia hanya dua minggu sekali, saat akhir pekan. Bagai berharap turun hujan saat masa paceklik sedang melanda. Begitulah rasa dahaga akan kehadiran Didan dalam hidupku.

Namun apa daya, bumi tetap selalu berputar meski aku mencoba menghentikannya. Orang yang aku harapkan menemuiku sesuai putarannya. Sungguh, aku berharap dunia berhenti pada porosnya saat dia berada di hadapanku, dan memberikan kehangatan yang aku damba.

Ah!

Aku tak mampu lagi menahan semua gejolak yang menggelegak di dalam dada. Aku yakin, Didan pun merasakan hal yang sama denganku. Terbukti saat dia datang kepadaku tiap dua minggu sekali. Mata yang penuh kerinduan, genggaman tangan yang semakin erat, pelukan yang rasanya tak ingin dilepaskan, dan tentu juga ketika bibir saling bertaut dan terasa berat untuk melepaskan.

Kehangatan yang diberikan Didan adalah candu yang tak mampu aku tepis. Rasa itu telah menjalar ke dalam seluruh aliran darah. Mengalir dari ujung kepala hingga ujung kaki. Genggam tangan serta belaian mesra yang selalu aku inginkan. Aku tak mau menunda semuanya. Aku harus segera katakana kepada Didan. Aku menginginkan  seluruh hati dan tubuhnya.

“Duhai Didan kekasih hatiku. Tak mampu lagi aku menahan seluruh rasa yang menggebu. Dada ini selalu berdegup hanya karenamu. Bibir ini hanya memanggil namamu. Mata ini hanya ingin memandangmu. Seluruh tubuhku menginginkan kehadiranmu. Belaianmu selalu membius kesadaranku. Aku membutuhkan obat bius itu darimu. Datanglah, rengkuh aku dalam pelukmu. Selamanya. Aku ingin melipat jarak denganmu, Sayang. Biarkan jarak tak menjadi penghalang atas kebahagiaan yang akan kita raih saat bersama.”

Aku ungkapkan seluruh inginku kepada lelaki terkasih. Semoga semesta mendukung keinginanku. Semoga Didan mengerti dan bersedia mengabulkan mintaku.

Maka ketika Didan menjawab seluruh inginku, tak ada yang bisa aku lakukan selain memeluknya dan menangis dalam dekap kehangatan seorang lelaki tercinta.

“Rieka kekasih hatiku. Aku pun sungguh menginginkan dirimu. Membelai dan merasakan kehangatan tubuh dan bibirmu adalah harapan yang membuatku tetap memiliki semangat menjalani hari demi hari tanpa kehadiranmu. Tunggu aku, Sayang. Doakan aku, agar bisa segera melipat jarak yang memisahkan kita. Menemukan cara agar bisa selalu bersama, itulah tujuanku saat ini. Tetaplah selalu merindu dan memikirkanku. Ingatlah hangatnya bibir saat menyatu dalam cinta. Engkau, adalah tujuan hidupku. Maka, beri aku waktu sedikit lagi.”

Aku harus bersabar sedikit lagi. Kami akan berjuang bersama agar bisa menuju tujuan bersama. Sebuah kehidupan dimana kebersamaan adalah yang utama. Tanpa jarak memisahkan. Tanpa hambatan yang menghalang.

 

Wimala Anindita

Bandung, 100820

0