Novel Prosa Liris The Player Sakitnya Dibohongi
Novel Prosa Liris The Player Sakitnya Dibohongi

BAB 6. SAKITNYA DIBOHONGI ( Bagian 2 )

Waktu berlalu, kehidupanku berjalan tanpa riak gelombang yang berarti. Suamiku masih seperti biasa dengan segala kesibukannya. Aku pun juga masih tetap berkutat dengan segala kesibukan sekolah dan tempat kursus.

Sampai suatu saat aku memperhatikan suatu hal yang kembali membuatku memiliki kecurigaan besar tehadap suamiku. Biasanya kami berangkat tidur sekitar jam sembilan malam, paling telat hanya lewat tigapuluh menit.

Tetapi aku perhatikan selam beberapa bulan terakhir, tiap kali sudah menunjukkan jam sepuluh malam suamiku bukannya menyusul tidur di kamar, malah pelan-pelan keluar dan memegang telepon genggamnya sambal senyum senyum sendiri.

Karena sudah tidak tahan dengan kelakuannya, aku pernah sekali pura-pura tidur kemudian mengikutinya ke teras. Aku bersembunyi di belakang pintu depan, sedangkan dia berdiri kadang-kadang duduk di kursi teras. Aku mendengar dia tertawa cekikikan dengan suara ditahan. Rupanya teleponnya menempel di telinganya. Apakah dia sedang menelepon atau hanya mendengarkan rekaman, aku pun kurang tahu.

Satu hal yang aku tahu, rona bahagia terpancar di wajah suamiku malam itu. Setelah tidak lagi menempelkan telepon genggamnya di telinga, dia kembali memainkan jarinya di atas layar telepon, masih sambil tertawa dan tersenyum.

Argh!

Istri mana yang tidak merasakan kecurigaan melihat kelakuan suaminya seperti itu? Yang pasti aku merasa sangat marah!

Waktu tidur yang seharusnya dia gunakan untuk menemani dan memelukku, malah dia gunakan untuk bercengkerama dengan orang lain. Siapapun itu. Keadaan ini pun sudah berlangsung selama berbulan-bulan.

Aku pernah menanyakan kepada dia tentang hal itu.

“Say, kenapa sekarang kalua tidur kok melebihi jam tidur biasanya? Enggak capek?” tanyaku suatu hari.

“Ah, kapan? Aku tetap tidur di sampingmu kok Say. Kalau pun keluar dari kamar mandi, paling-paling hanya ke kamar mandi,” jawabnya santai.

Aku tidak akan menyangkal jawaban yang dia berikan kepadaku. Tetapi jawabannya menjadi catatan bagiku, bahwa sebuah kebohongan telah dia tuliskan dalam jalan kami.

Baiklah, untuk kali ini aku akan diam. Akan aku tanyakan lagi suatu saat nanti.

Aku pura-pura saja bahwa semua dalam keadaan baik, tanpa perubahan. Setelah pertanyaanku itu, Didan juga kembali biasa. Tidur jam Sembilan malam paling telat tigapuluh menit sesudahnya. Maka aku juga diam.

Namun satu minggu kemudian, kebiasaannya untuk bermain telepon genggam di malam hari kembali kambuh. Masih aku diamkan saja, bedanya kali ini aku tidak pernah benar-benar tidur ketika dia masih berada di luar kamar. Aku menunggunya.

Hampir dua minggu berlalu, aku pura-pura bangun untuk ke kamar mandi. Didan kaget melihatku keluar dari kamar tidur. Dia langsung mematikan telepon genggamnya.

“Ini dari kantor telepon, katanya ada masalah. Ada-ada saja mereka. Malam-malam masih aja mengganggu.” Kata dia dengan menunjukkan wajah sedikit bersungut.

Aku hanya mengangguk dan tersenyum.

“Ya Tuhan, ada apa dengan suamiku? Apakah dia sedang mengalami puber? Tolong aku agar bisa membuatnya sadar. Ku mohon ingatkan dia bahwa dia masih memiliki keluarga. Semoga dia tidak tergelincir dan menjadikannya seorang lelaki yang tidak bermartabat.”

Doaku dalam hati untuk suamiku tercinta.

Namun semakin aku diam, sepertinya Didan malah semakin nyaman dan tidak lagi peduli ketika dia pulang telat atau harus tidur larut malam.

Teleponku saat sore hari pun lebih sering tidak diterimanya, masih dengan alasan ditelepon oleh orang kantor.

Maka aku pun mencoba untuk menelepon saat jam kerjanya. Meski sebenarnya pantang bagiku untuk menelepon suami saat dia sedang kerja. Tetapi apa boleh buat, sepertinya aku memang harus melakukannya. Demi keamanan dan kenyamanan keluarga.

Saat jam kerja, aku tidak punya alasan untuk curiga. Karena sudah pasti seorang pekerja ya bekerja di saat jam kerjanya. Jadi aku tidak bias marah ataupun cemberut jika telepon dariku tidak diangkat.

Namun ternyata, tiba-tiba aku mendapatkan sebuah berita yang tentu saja tidak enak untuk di dengar. Dari seorang karyawan yang kebetulan pernah main ke rumah. Karyawan itu mengatakan bahwa saat aku datang ke kantor, dia tidak mengenaliku.

Nah!

Satu kunci lagi aku dapatkan. Kenapa? Karena aku tidak pernah datang atau mendatangi suamiku ke tempat kerjanya. Jadi siapa perempuan yang datang ke kantornya. Bahkan aku harus benar-benar memeras ingatanku. Mungkin aku memang pernah ke kantor tetapi aku tidak mengingatnya. Tetapi sekeras apapun aku melakukannya, ingatanku tetap mengatakan bahwa aku tidak pernah mendatangi suamiku ke kantornya.

Jelas!

Ada perempuan yang sering mendatanginya ke kantor. Tetapi siapa?

***

Wimala Anindita

Bandung, 130820

0