Novel Prosa Liris The Player Sakitnya Dibohongi
Novel Prosa Liris The Player Sakitnya Dibohongi

BAB 6. SAKITNYA DIBOHONGI

Kehidupan keluargaku berjalan dengan sangat lancar, dan bisa dikatakan sangat bahagia. Perekonomian lebihbaik bahkan jauh lebih baik, anak-anak tumbuh sehat dan tidak pernah merepotkan, suami yang sangat pengertian juga sayang keluarga. Apa lagi yang harus aku minta kepada pemberi kehidupan?

Tidak ada lagi.

Aku tidak mengeluh dan tidak meminta hal yang muluk. Semuanya sudah cukup. Semuanya sudah terpenuhi. Bahkan percintaanku dengan suamiku di ranjang pun sangat lancar.

Kami juga sudah berangkat umroh beberapa waktu lalu. Sungguh semua rasa syukur aku langitkan kepadaNya. Rasa terimakasih yang tidak mampu aku ukur kepadaNya.

Setelah kepulanganku dari ibadah umroh, entah mengapa temanku semakin banyak. Kesibukan suamiku pun semakin padat. Mungkin ini berkah yang kembali Dia berikan kepada kami.

 

***

 

Sampai kemudian rasa nyamanku terusik dengan tingkah polah suamiku. Dulu, dia memang sibuk tetapi masih bisa mengangkat telepon dariku saat pulang kerja. Meski hanya sebentar, kami mengobrol tentang malam ini mau makan apa atau apapun, yang tidak memakan waktu lama. Waktu untuk aku menelonnya juga tidak lama, hanya sekitar sepuluh atau limabelas menit jika banyak yang akan diceritakan atau dibicarakan.

Namun sekarang, dia tidak lagi mengangkat teleponku. Tiap kali teleponku bisa masuk, dia selalu mengatakan bahwa ada telepon dari kantor atau dari teman-teman komunitas motor, komunitas sepeda, atau dari teman kuliahnya.

Sampai selama itukah jika orang kantor menelepon karena masalah yang terjadi di kantor? Sampai selama itukah seorang teman kuliah berbicara lewat telepon dan si empunya telepon sedang menyetir? Sampai selama itukah teman komunitas menelepon?

Ah…

Dahiku mulai mengernyit saat mendengar jawabannya.

Aku rasa semuanya hanya sedikit muslihat dari dia agar aku tidak curiga. Agar aku tidak marah, atau agar aku tidak kecewa.

Tetapi cerita-ceritanya malah semakin memunculkan kecurigaan dalam hatiku.

“Ada apa sebenarnya, Say? Apa yang kau lakukan selama perjalanan pulangmu dari kantor  menuju rumah? Benarkah kau berangkat kerja ke kantor hari ini? Atau ada tujuan lain selain kantor?”

Berbagai macam pertanyaan menari dan berkelebat dalam hati dan kepalaku. Ada apa ini? Apakah aku benar-benar mulai tidak percaya kepada suamiku?

Hmmm… aku harus pelan-pelan mencari tahu.

Meski sebenarnya aku sama sekali tidak ada bayangan tentang hal yang harus aku lakukan untuk mencari tahu kebenaran.

Tetapi biarlah waktu yang menjawab semuanya.

Toh suamiku masih terlihat saying kepadaku juga anak-anakku. Dia pun selalu pulang ke rumah tiap hari.

Hanya saat jam kerja saja yang aku tidak bias mengetahui kegiannya. Oh iya, saat hari Sabtu ketika dia katakana bahwa dia memiliki urusan di luar rumah merupakan salah satu waktu yang aku tidak bisa deteksi.

Ah…

Apakah keadaan dia masih seperti saat sekolah dulu? Dimanapun berada selalu dikelilingi perempuan?

Argh!

Aku pusing memikirkan kemungkinan itu!

Apalagi sekarang aku dan dia sudah berjuluk Haji setelah pulang umroh bukan? Apakah seorang Haji akan melakukan sebuah hal yang tidak terhormat?

Aku rasa tidak!

Kami terhormat!

Tidak mungkin melakukan hal yang membuat harga diri kami jatuh.

Selama ini aku percaya kepadanya. Maka sekarang pun sudah seharusnya aku percaya juga. Seharusnya aku tidak memiliki sedikitpun alasan untuk memiliki kecurigaan kepadanya.

Mungkin aku hanya cemburu.

Sebenarnya aku memang mudah tersulut api cemburu. Dulu saat masih pacaran, aku berusaha keras untuk menyembunyikan kecemburuanku kepada teman-teman perempuannya. Ada kalanya aku ingin menjambak rambut mereka kalua aku melihat mereka menempel ke pacarku.

Tetapi sekarang, aku benar-benar tak mau kehilangan suamiku. Saat berjalan berdua, aku akan menggandeng tangannya sangat erat. Setengah badankku menempel kepadanya. Aku harus tunjukkan kepada semua orang, bahwa lelaki ini adalah milikku.

Meski banyak orang mengatakan bahwa suamiku lebih pendek dariku dan penampilan fisiknya sangat biasa saja, aku tetap mencintainya dan tetap cemburu ketika perempuan lain memperhatikan dia.

Ah… Baiklah, sepertinya aku harus benar-benar menahan diri.

 

***

 

Wimala Anindita

Bandung, 120820

0