Novel Prosa LIris The Player Hatiku Terluka
Novel Prosa Liris The Player Hatiku Terluka

BAB 7. HATIKU TERLUKA

Aku terjatuh, kaget dan marah. Aku meremas kertas surat dengan berbagai tanya berkecamuk dalam dada. Betulkah cerita yang aku baca di surat itu? Jika memang benar, sungguh tega sekali suamiku kepadaku.

Aku bersandar di tembok kamar, menekuk kaki dan memeluknya sambil menangis keras. Aku tidak menyangka lelaki yang selalu aku cintai dan selalu aku banggakan mampu melakukan hal bejat seperti itu.

Kurang ajar!

Kurang ajar!

Cintaku telah dinodai dengan hal-hal kotor yang tidak pernah aku temukan buktinya.

Goblok!

Aku goblok!

Bagaimana mungkin aku dibohongi sekian lama dan aku tidak menyadarinya sama sekali.

Bahkan salah satunya sudah dinikahi secara siri?

Setan apa yang telah merasuki suamiku?

Semua cerita dalam surat itu kembali terngiang di kepala.

Satu per satu aku mengurai pelan namun pasti.

Aku butuh kepastian!

Cukup sudah! Airmata ini aku habiskan hari ini.

Selanjutnya, aku akan runut satu per satu untuk memperjelas semua cerita yang aku peroleh. Memastikan kebenaran dari seluruh cerita itu adalah salah satu hal yang harus aku lakukan sekarang.

Baiklah, perlahan. Satu per satu aku akan mengurai cerita.

Ketemu di jalan dengan pacarnya. Memang hal itu mungkin saja terjadi. Perjalan dari rumah menuju kantor sekitar empatpuluh menit bahkan bias mencapai dua jam jika jalanan sedang penuh. Alasan macet ketika telat sampai rumah adalah sebuah alasan yang tidak bisa aku sangkal. Bisa jadi waktu antara empatpuluh menit sampai dua jam itu ternyata menjadi kesempatan bagi dia untuk bertemu selingkuhannya. Waktu panjang itu bisa diambil saat berangkat kerja atau pulang kerja. Memang sangat mungkin terjadi.

Bertemu selingkuhan saat di kantor. Sangat mungkin terjadi. Apalagi dari berita yang pernah aku dengar beberapa waktu lalu, bahwa ada seorang perempuan yang sering menemuinya. Bahkan teman-teman dan tim kantornya menyangka bahwa perempuan itu adalah aku. Perempuan gila itu, benar-benar membuatku ingin membunuhnya!

Ya! Aku ingin membunuhnya! Bukan hanya dia, tapi semua perempuan yang masuk dalam kehidupan keluargaku dan mengganggu keluargaku.

Andai aku bisa membunuh mereka. Akan aku lakukan!

Ketemu selingkuhannya di tempat reuni. Hal ini pun sangat mungkin Apalgi suamiku sekarang adalah ketua alumni setelah sebelumnya menjadi wakil ketua alumni. Tentu saja dia sering menghadiri rapat-rapat alumni ataupun rapat-rapat terbatas pengurus saja.

Hampir tiap bulan ada saja alasan rapat reuni dia katakana kepadaku. Apalagi jika ada rencana reuni besar, dia bisa tiap minggu sekali akan rapat pengurus. Kadangkala pulang kerja pun sangat larut karena dia mampir dulu di tempat lain untuk rapat.

Bahkan mereka pernah reuni di sebuah villa di daerah Lembang dan menginap di sana. Jika reuni ini menjadi ajang dia berpacaran dan berselingkuh dengan temannya, memang sangat mungkin. Apalagi suamiku adalah orang yang sangat populer saat sekolahnya dulu.

Masalahnya adalah suamiku dan teman-temannya pasti sudah tua semua. Sudah di atas limapuluh tahun! Masih punya keinginan untuk terus melakukan perselingkuhan?

Hhhh! Aku tidak habis pikir, perempuan macam apa teman-teman reuninya itu! Perekkah mereka?

Sialan!

Yah… aku baru bisa mengingat jelas sekarang. Kemungkinan selingkuh dengan teman masa sekolahnya itu sangat mungkin. Pertemuan yang intens dengan alasan reuni adalah sebuah kesempatan yang mereka ambil tanpa menimbulkan kecurigaan.

Menginap di villa di sebuah daerah yang dingin, membuat aku kembali berpikir tentang kegiatan mereka dana pa saja yang mereka lakukan di waktu itu.

Ah! Kembali aku hanya bisa mengutuk diriku sendiri yang memberikan ijin kebebasan terlalu longgar untuk suamiku.

Hhffftttt…!!

Selanjutnya tentang perselingkuhannya dengan teman perempuannya dari tempat kerja sebelumnya. Untuk hal ini tentu saja aku sama sekali kurang tahu. Suamiku memang orang yang memilki relasi luas dengan lingkungan manapun. Ketika relasinya kebanyakan perempuan, aku tidak pernah menaruh curiga tentang hal tersebut. KArena memang dari dulu temannya lebih banyak perempuannya.

Aku pernah tidak bisa menerima keadaan tersebut. Tetapi masa mudaku benar-benar sudah aku habiskan untuk mendengarkan jawaban dia tenatng teman dan hanya teman. Rasanya aku sudah sangat kebal dengan hal itu.

Aku hanya mencoba menerima suamiku seperti itu. Aku berpikir, mungkin dia memang sudah terbiasa berada di lingkungan perempuan. Karena kakak-kakak yang selalu menemani dia untuk bermain adalah kakak-kakak perempuannya, dan dia selalu mendapatkan semua keinginannya dari mereka.

 

Wimala Anindita

Bandung, 150820

0