Bab 8. Sri, Pacar Seumur Hidup
Novel Prosa Liris The Player Sri, Pacar Seumur Hidup

BAB 8. SRI, PACAR SEUMUR HIDUP ( Bagian 2 )

Yah… gendeng! Kelakuan gila yang kami lakukan, meski tanpa ikatan apapun. Hanya teman, sebatas teman. Teman dekat, mungkin. Tetapi bukan pacar. Pada kenyataannya kami saling membutuhkan satu sama lain dan tidak bisa jauh.

Saat itu, Didan sudah punya pacar. Rieka namanya. Tetapi Rieka jarang sekali datang ke rumah Didan. Malah aku lah yang hamper tiap hari menyambangi kediaman Didan.

Akhirnya aku pun memiliki pacar, namanya Rano. Yah, aku pikir untuk apa menunggu Didan di saat ada lelaki lain yang menginginkan diriku menemani hari-harinya.

Maka jadilah kami sepasang teman dengan pacar masing-masing.

Rano sangat tahu tentang hubungan pertemananku dengan Didan. Bahkan dia pun sering ikut bertandang ke rumah Didan. Walaupun tidak sesering aku. Aku tetap menjadi teman yang paling setia berada di samping Didan. Bahkan ketika membutuhkan istirahat di rumahnya, aku pun seringkali masih menemaninya.

Hari itu, teman lain sudah pergi semua dari rumah Didan. Hanya ada aku dan Didan di rumah besar itu. Anak-anak yang menempati kamar-kamar lain pun belum datang.

“Sri! Apa saja yang sudah kau lakukan dengan Rano?” tanya Didan.

“Hmm…? Sudah aku lakukan bersama Rano? Maksudmu apa, Didan?” aku balik bertanya kepadanya.

“Sini!” katanya sambil mengayunkan tangannya memintaku mendekat kepadanya dan duduk di sampingnya.

Maka aku mendekat dan duduk di sampingnya. Aku merasakan jemari tanganku diremas perlahan, hatiku berdebar. Jantungku serasa tak mampu bergantung pada tempatnya. Aku benar-benar tak mampu berkata apapun, aku hanya diam menunggu perlakuan Didan kepadaku.

Tiba-tiba dia mendaratkan bibirnya di bibirku.

“Sudahkah kau melakukan ini dengan Rano?” tanyanya tanpa menghentikan gerakan bibirnya di atas bibirku.

Aku tak mampu berkata apa pun. Dia menempatkan satu lagi tangannya di tengkukku, membuat bibirku semakin menempel pada bibirnya yang terus bergerak tak terkendali. Aku pun menjadi tidak terkendali. Aku membalas gerakan bibirnya!

Sialan!

Aku membalas ciuman bibirnya! Sialnya lagi, aku suka!

Lalu kata apalagi yang harus aku ucapkan selain gendeng! Gila!

Didan memang gila, tapi aku lebih gila karena aku menikmati seluruh rasa yang tercipta.

Kejadian serupa terjadi bukan hanya sekali dua kali tetapi sering kami lakukan. Tanpa perjanjian atau ikatan apapun. Sebab Didan tetap menjalin hubungan dengan Rieka. Aku pun tetap menjalin hubungan dengan Rano.

 

***

 

Ketika memasuki perkuliahan, kebetulan aku mengambil jurusan di kampus yang sama dengan Didan. Sedangkan Rano mengambil jurusan yang berbeda meskipun di kampus yang sama.

Rieka diterima di kampus lain. Tentu saja kegiatan antara aku dan Didan bisa dibilang selalu sama. Didan masih tetap bergantung kepadaku, dan aku pun masih ingin selalu berada di dekatnya.

Hubungan kami semakin dekat, kegiatan kami selalu sama. Bahkan mata kuliah yang kami ambil pun selalu sama. Untuk orang yang tidak tahu, pasti kami dikira berpacaran. Kelakuan dan tingkah laku memang layaknya orang pacaran.

Kami sedikit menjauh jika ada Rano atau Rieka di antara kami. Selebihnya, kami tak terpisahkan.

Bahkan kegiatan percintaan kami pun berjalan sangat lancar.

Percintaan!

Yah, aku melakukan hubungan percintaan tanpa ikatan dengan Didan. Setiap saat, setiap ada waktu.

 

 

Wimala Anindita

Bandung, 190820

0