Bab 8. Sri, Pacar Seumur Hidup
Novel Prosa Liris The Player Sri, Pacar Seumur Hidup

BAB 8. SRI, PACAR SEUMUR HIDUP ( Bagian 3 )

Hubungan kami semakin dekat, kegiatan kami selalu sama. Bahkan mata kuliah yang kami ambil pun selalu sama. Untuk orang yang tidak tahu, pasti kami dikira berpacaran. Kelakuan dan tingkah laku memang layaknya orang pacaran.

Kami sedikit menjauh jika ada Rano atau Rieka di antara kami. Selebihnya, kami tak terpisahkan.

Bahkan kegiatan percintaan kami pun berjalan sangat lancar.

Percintaan!

Yah, aku melakukan hubungan percintaan tanpa ikatan dengan Didan. Setiap saat, setiap ada waktu.

Jangan berpikir terlalu jauh, aku tetap tidak memberikan keperawananku kepdanya.

Kami hanya saling membelai, mencium, dan merasakan kepuasan tiada tara saat bersama. Itulah sebabnya aku katakana hubungan percintaan.

Cintaku kepada Didan, meski tidak bisa saling memiliki.

Aku tidak tahu apakah Didan memiliki perasaan yang sama denganku atau hanya memanfaatkanku saja. Aku benar-benar tidak tahu dan tidak ingin mengetahuinya.

Yang aku tahu, aku sangat menikmati hubunganku dengannya.Dia pernah mengatakan kepadaku, agar aku tidak berharap banyak kepadanya, karena dia sudah memiliki Rieka.

Yah, tentu saja aku tidak banyak berharap kepada dia. Toh aku pun dusah memiliki Rano yang selalu perhatian dan saying kepadaku.

Hubungan terlarang tanpa ikatan antara aku dan Didan berlangsung hingga kami lulus kuliah.

Ketika tangan dan tubuh kami menyatu, ketika bibir kami saling melumat, ketika debar dalam dada sangat menyesakkan. Semuanya hanya tinggal kenangan bersamaan dengan toga yang kami gunakan.

Hari-hari setelah pemakaian toga merupakan hari-hari yang sepi bagiku tanpa kehadirannya. Dia pergi dari sisiku tanpa berpamitan bahkan tanpa ciumannya yang membuatku tak bisa bernapas.

Beberapa temanku mengatakan bahwa Didan sudah pergi keluar kota untuk bekerja.

Ya sudahlah. Kini waktuku untuk menjalani kehidupan normalku tanpa Didan.

Bahkan saat aku menikah dengan Rano pun aku tidak bias memberi kabar kepadanya, karena aku sungguh kehilangan hubungan dengan dia. Aku tidak tahu dia ada dimana bersama siapa.

 

***

 

Duapuluh lima tahun berlalu sejak kelulusanku. Aku telah menikah dan bahagia bersama Rano. Satu anak lelaki dan seorang anak perempuan telah memberikan keindahan dan kehangatan dalam pernikahan kami.

Banyak hal terjadi dalam kehidupan kami. Satu kekecewaan besar aku patri dalam hati untuk suamiku, Rano. Yah, dia adalah seorang pegawai pemerintahan dengan posisi yang lumayan. Namun tiba-tiba dia memutuskan untuk berhenti dan memilih untuk menjalani usahanya sendiri. Aku tidak tahu pemikiran darimana yang membuat dia membuat keputusan tiba-tiba seperti itu.

Aku sangat kaget dengan keputusannya. BUkankah dengan menjadi pegawai pemerintahan, masa tua kami sudah pasti terjamin? Sedangkan menjadi karyawan swasta atau pun berwiraswasta dengan memiliki usaha sendiri malah tidak ada kepastian untuk masa depan?

Tetapi suamiku lebih memilih untuk berwiraswasta?

Argh!

Sedangkan aku pun hanya seorang pegawai dari perusahaan swasta. Tanpa kepastian akan masa depan.

Tetapi apa boleh buat, keputusan sudah bulat. Suamiku tetap keluar dari pemerintahan dan memilih untuk membuat usaha sendiri.

Aku hanya memendam rasa kecewa dalam hati. Aku hanya harus mendukung apapun keputusan suamiku.

Oh ya, saat ini aku bekerja di sebuah perusahaan besar yang bergerak di pembuatan makanan dan minuman.

Suatu hari aku melihat seseorang yang sepertinya aku kenal sedang duduk di kantorku.

Siapa dia?

Mengapa dia duduk di depan kantor HRD?

Apakah karyawan baru?

Hingga satu minggu kemudian aku melihat orang yang minggu lalu duduk di depan pinti HRD berjalan di depan mejaku menuju ke ruang produksi.

Aku seperti mengenal wajahnya! Tetapi badannya sudah tidak sekurus dulu. Sekarag dia lebih gempal dan lebih percaya diri.

Didan! Desisku.

Benarkah dia? Mengapa dia berada di sini?

 

 

Wimala Anindita

Bandung, 190820

 

 

0