Bab 8. Sri, Pacar Seumur Hidup
Novel Prosa Liris The Player Sri, Pacar Seumur Hidup

BAB 8. SRI, PACAR SEUMUR HIDUP ( Bagian 5 )

Cerita berkembang bagai bunga mawar yang pelan tapi pasti mulai menampakkan keindahan kelopaknya setelah tidur panjang pada sebuah masa bernama kuncup.

Aku dan dia mulai saling berbagi cerita, seperti dahulu semasa sekolah. Kami saling berbagi alamat kontrakan. Kami pun saling tahu bahwa di kota besar ini kami sama-sama tinggal sendiri dan meninggalkan keluarga di kota masing-masing.

Kemudian kami pun menjadi lebih sering untuk berangkat kerja dan pulang kerja bersamaan. Didan akan menjemputku di pagi hari dan mengantarkanku pada sore hari.

Yah, aku kembali menemani hari-harinya di kota tempat kami bekerja, tanpa keluarga masing-masing.

Akhirnya atas permintaan Didan, aku pindah kontrakan mendekati tempat kontraknya. Dia mengatakan supaya tidak kejauhan saat menjemput dan mengantarku sepulang kerja.

“Sri, besok sepulang kerja akum au mengajakmu ke sebuah tempat yang bagus. Pemandangan dari tempat itu sangat indah. Kau pasti suka. Sebenarnya lebih indah saat siang hari dibandingkan malam hari. Tetapi karena kita hanya punya waktu di malam hari, tidaka apa-apa kali ini kita lihat pemandangan malam hari ya. Dijamin kau tidak akan menyesal, Sri.”

Didan mengajakku pergi ke suatu tempat yang indah. Aku tidak tahu kemana, tetapi yang penting adalah pergi bersama dengan dia. Kesempatan ini kembali membuat hatiku bersetak lebih cepat dari biasanya. Ah, sudahlah. Kami sudah sama-sama menikah dan juga sudah punya anak. Apa yang bisa terjadi pada kami? Tentu tidak akan terjadi apa-apa.

Sore itu Didan benar-benar membawaku pergi ke suatu tempat yang agak jauh dari kontrakan. Ternyata dia membawaku ke sebuah tempat, dengan kamar-kamar di dalamnya. Sebuah motel atau penginapan? Entahlah.

Setelah mendapatkan kunci kamar, kami masuk ke dalamnya. Didan membuka pintu kea rah luar ruangan. Benar yang dia katakana, bahwa pemandangan di sini sangat indah! Lampu-lampu kota terlihat gemerlap dalam kegelapan sebagai latar belakangnya.

Aku menjadi penasaran seindah apakah ketika pagi menjelang. Bukankah Didan bilang bahwa pemandangan akan lebih indah di siang hari?

Hmmm… suatu hari pasti bisa terlaksana.

Tiba-tiba Didan memelukku dari belakang ketika aku masih terpesona pada keindahan lampu-lampu itu.

“Benar bukan apa yang aku bilang? Indah ya? Kamu suka, Say?” tanyanya sambIl terus memelukku dan mulai mendekatkan bibirnya ke leherku.

Aku merasa rishi, tetapi aku tidak berkata atau melakukan apapun. Aku hanya menunggu dan melihat, sebenarnya apa yang diinginkan Didan dariku?

Panggilan Say kepadaku barusan membuat aku berpikir bahwa dia sedang memikirkan perempuan lain, yaitu istrinya. Yah, aku tahu say adalah panggilan saying Didan kepada istrinya.

Tiba-tiba aku merasakan kehangatan yang menempel di leherku. Ya Tuhan, Didan menciumi leherku!

“Ikuti saja,” katanya pelan sambil membalikkan badanku sehingga wajahkami benar-benar saling berhadapan.

Dia memegang daguku kemudian mencium bibirku.

“Mari kita bercinta, Say. Aku sangat merindukan kehangatanmu.”

Aku meronta, aku menolak.

 

 

Wimala Anindita

Bandung, 200820

 

0