Bab 8. Sri, Pacar Seumur Hidup
Novel Prosa Liris The Player Sri, Pacar Seumur Hidup

BAB 8. SRI, PACAR SEUMUR HIDUP ( Bagian 6 )

Dia memegang daguku kemudian mencium bibirku.

“Mari kita bercinta, Say. Aku sangat merindukan kehangatanmu.”

Aku meronta, aku menolak.

“Didan, kau rindu pada istrimu? Mengapa kau tidak menelpon dia? Mungkin kalian bisa melakukan phone sex, daripada kau harus melakukannya denganku seperti ini. Kita sudah sama-sama menikah, dan umur kita pun sudah teramat matang untuk melakukan hal semacam ini.”

Bukannya merenggangkan pelukannya, Didan malah semakin mendekatkan tubuhnya kepadaku.

“Aku tidak merindukan istriku. Tapi aku menginginkanmu, Sri sayang. Aku tahu kau mencintaiku dari dulu. Maaf jika akhirnya aku lebih memilih istriku. Tapi hari ini aku menginginkanmu, Say. Mulai sekarang, kita akan bebas bercinta. Aku akan melakukannya denganmu kapan pun aku mau. Engkau pun bisa memintaku ketika kau menginginkannya, Say.”

Didan menjadi tak terkendali. Dia menciumku dengan sangat beringas. Dia terlihat sangat menikmati percintaan ini. Aku pun tak kuas menolak gejolak yang telah membara di dalam dada. Aku membalas semua perlakuan Didan kepadaku.

Kami berciuman dan saling melumat. Kami saling bersentuhan dan memberikan kehangatan yang kami mampu lakukan. Malam itu pun berakhir dengan kepuasan yang kami capai hingga beberapa kali.

Yah, kami melakukannya!

Hubungan percintaan suami istri ini akhirnya kami lakukan!

Setelah kami sama-sama berkeluarga!

Gila!

Ya, aku menggila!

Cintaku tiba-tiba menyala lagi untuk Didan. Aku tidak lagi peduli bahwa aku sudah bersuami bahkan anakku pun sudah dewasa. Yang aku tahu, aku menginginkan Didan. Didan pun menginginkan diriku. Aku tidak mungkin menolak kesempatan ini.

Sejak malam itu, aku resmi menjadi kekasih Didan. Kekasih tersembunyi. Meski bagi Didan aku tetap dianggap sebagai teman, tetapi menurutku kerjasama saling memuaskan hasrat terpendam tidak dilakukan oleh dua orang teman biasa.

“Jangan berharap terlalu banyak dariku. Aku juga tidak bisa mencintaimu. Karena aku sudah punya istri dan aku mencintai istriku,” kata Didan pada suatu kali setelah kami bercinta.

Oh iya, sebenarnya setelah malam yang panas dan penuh hasrat itu kami benar-benar sering melakukan percintaan suami istri.

Sudah tidak perlu sering-sering menyewa kamar motel, karena kami akan bergantian tidur di kontrakan kami.

Hampir tiap malam kami tidur bersama. Kami benar-benar bagaikan pasangan suami istri selama hari-hari kerja. Kami kembali kepada keluarga masing-masing hanya pada akhir minggu. Di hari Senin, kami sudah bertemu kembali dan akan tidur bersama kembali. Bercinta dan menghabiskan waktu berdua.

Waktu tidur bersama kami hanya terganggu sesekali, yaitu saat istri Didan tiba-tiba datang ke kontrakan karena rindu.

Tapi keadaan itu belum tentu satu bulan sekali terjadi. Didan tetap milikku. Tubuhnya selalu menempel kepadaku lebih lama dibandingkan menempel kepada istrinya.

Lalu siapa yang lebih pantas disebut sebagai istri jika begini kejadiannya? Aku yang selalu melayani semua kebutuhannya tiap hari atau perempuan lain yang disebut istri karena memiliki surat yang menyatakan demikian?

Hah!

Aku benar-benar sudah keracunan pikiran tentang Didan.

Aku benar-benar takluk dalam pesonanya.

Menjadi perempuan yang tidak lagi mampu berpikir jernih saat sedang bersama. Bersama lelaki yang bukan milikku. Lelaki yang seharusnya menjadi hak perempuan lain, namun memilih untuk selalu bersamaku.

Yah, aku perempuannya lelaki lain merasa sangat nyaman saat sedang berdua dengan lelakinya perempuan lain.

 

***

 

Wimala Anindita

Bandung, 200820

 

0