Bab 8. Sri, Pacar Seumur Hidup
Novel Prosa Liris The Player Sri, Pacar Seumur Hidup

BAB 8. SRI, PACAR SEUMUR HIDUP

Namaku Sri. Lebih lengkapnya Sri Martini. Meskipun namaku berkesan nama Jawa, namun aku tidak memiliki darah Jawa sama sekali. Tetapi aku sering mengaku memiliki darah Jawa kepada beberapa orang kenalanku. Sedikit berbohong tak apa, asal orang yang aku ajak mengobrol merasa nyaman.

Aku tidak akan menceritakan kehidupanku. Tugasku di sini hanya menceritakan kehidupanku yang berkaitan dengan Didan, atau Rudan Didan Salimun Ardiansyah. Laki-laki yang diam-diam aku cintai. Cinta dari hati, tak perlu diucapkan namun selalu diungkapkan lewat perbuatan.

Perbuatan?

Iya dong, perbuatan.Perbuatan apa? Sabar. Aku sedang bercerita kan? Hehehe.

Aku mengenal dia saat masa sekolah di sekolah menengah. Kebetulan aku selalu satu kelas dengan dia, dan kebetulan juga dia mau untuk selalu dekat denganku. Siapa laki-laki yang tidak mau berada dekat dengan perempuan yang mampu memberikan semua yang diinginkannya?

Begitulah peranku bagi Didan. Aku adalah Sri, perempuan yang selalu ada untuk dia. Apapun dan bagaimana pun dia.

Aku memang hanya salah satu perempuan yang berada di sekitar Didan. Tetapi aku memiliki kelebihan dibandingkan teman-temanku yang lain. Aku selalu membawa makanan berbentuk camilan, permen, atau apapun di dalam tas sekolahku. Aku memang sengaja membawa camilan, karena aku tahu Didan suka ngemil. Karena itulah, aku selalu menjadi pilihan saat dia ingin ditemani, kemanapun.

Aku juga selalu memberikan waktuku untuk dia. Tidak peduli meski aku sendiri memiliki kesibukan, aku akan tetap menomorsatukan kepentingan Didan. Sedikit demi sedikit, secara tidak sadar Didan menjadi sangat bergantung kepadaku. Bahkan hanya sekedar membeli minuman di kantin pun, dia meminta aku yang membeli. Ketergantungan atau hanya menganggapku pembantu? Entahlah. Yang penting satu orang lelaki terkenal di sekolah terlihat sangat menempel kepadaku.

Keuntungan bagiku adalah, aku pun menjadi terkenal!

Iya, aku menjadi terkenal. Karena dimanapun Didan berada, aku pasti berada di sana juga.

Saat Didan menjadi anggota organisasi sekolah, aku pun selalu ada bersama Didan. Meskipun aku bisa dibilang hanya seorang penyusup, tetapi tetap diterima dengan baik oleh semua teman organisasi.

Semua kenakalan dan keusilan yang dilakukan Dilan, aku tahu. Aku harus tertawa dan terlihat sangat senang dengan kelakuan Didan jika tak ingin dimusuhi atau dicemberutin.

Yah… dia gampang sekali marah atau merasa kecewa kalau perilakunya tidak mendapatkan dukungan dari teman-teman dekatnya. Karena aku adalah satu diantara dekat dekatnya, maka aku harus selalu terlihat mendukung kelakuan dia, baik atau pun buruk.

Saat dia menyalakan mesin vespa milik seorag teman, aku sangat tahu tentang hari itu. Iseng, ya hanya iseng karena merasa sepi sepertinya. Tawaku benar-benar sangat keras hari itu. Didan pun terlihat sangat senang dan puas ketika kelakuannya membuat banyak orang tertawa.

Saat dia membolos dari sekolah karena sedang melakukan pendekatan kepada seorang perempuan dari sekolah lain, aku pun tetap harus tertawa meski sebenarnya hatiku perih. Amat perih. Bagaimana tidak, laki-laki yang aku sukai ternyata lebih menginginkan perempuan lain untuk menjadi pacarnya.

Padahal kalau dilihat orang, kami berdua sudah seperti dua orang kekasih. Bergandengan tangan, berangkulan, bahkan berpelukan sudah terlalu biasa kami lakukan. Jangan salahkan aku, jika hatiku memiliki keinginan lebih atas hubungan pertemanan ini. Sayang sekali keinginan hatiku tidak sejalan dengan keinginan Didan. Apakah dia hanya menganggapku sebagai teman biasa? Lalu apa arti remasan tangan yang pernah dia berikan padaku? Juga kecupan bibir meskipun hanya sekejap malam itu?

Argh!

Aku bisa gila jika memikirkan kelakuan gendeng Didan!

 

 

Wimala Anindita,

Bandung, 180820

 

0