Bab 9. Sri ; Aku Cemburu
Novel Prosa Liris The Player Sri ; Aku Cemburu

BAB 9. SRI ; AKU CEMBURU ( Bagian 3 )

Tetapi bagaimana dengan Bandung? Aku tidak atau lebih tepatnya belum mengenal teman-temannya di Bandung. Bagaimana caranya supaya aku tahu tentang Didan dan kegiatannya selama di Bandung?

Argh!

Kepalaku rasanya mau pecah!

Suatu saat aku pasti menemukan jalan! Pasti!

 

***

 

Waktu terus berjalan. Aku masih tetap bekerja di Purwakarta, sedangkan Didan sudah mulai dengan kegiatannya di kantor barunya di Bandung. Dia bilang jarak antara kantor dan rumahnya dekat, bisa ditempuh hanya sekitar satu jam perjalanan saja.

Aku rutin menerima kabar dari dia. Aku pun mendapatkan banyak cerita dari dia, tentang teman-temannya juga tentang pekerjaannya bahkan tentang anak buahnya yang sering merepotkan untuknya.

Namun sangat disayangkan, waktu untuk bertemu Didan menjadi sangat berkurang. Jika dulu aku bisa setiap hari bertemu bahkan tidur bersama selama sepuluh tahun, kemudian bertemu satu minggu sekali selama satu tahun, maka sekarang aku bertemu dia paling cepat satu bulan sekali saja.

Antara jengkel, marah, dan rasa rindu ini menyatu tanpa tahu harus bagaimana, mesti melakukan apa.

Satu tahun kami bertemu dengan jangka waktu antara satu hingga dua bulan sekali. Keadaan ini pun sudah membuat aku merasa janggal dan sedih. Aku tahu Didan adalah laki-laki yang tidak pernah bisa jauh dari perempuan. Aku yakin, pasti ada perempuan yang dia dekati di kantor barunya.

Namun sejengkel apapun ke Didan, aku tetap mencintainya.

Aku harus mendapatkan perhatian dari dia. Meskipun aku tidak bisa bertemu tiap hari dengannya, namun aku berusaha agar dia tetap selalu mengingatku dan selalu menelpon atau kirim kabar padaku.

Yah, aku sering mengirim makanan untuknya. Camilan dalam jenis apapun, aku kirimkan untuk dia, sebagai teman minum di atas meja kerjanya.

Saat dia berulang tahun, aku pun masih selalu mengirimkan kue ulang tahun dank ado untuknya. Bahkan aku pernah membuat heboh kantor dia karena kiriman buket bunga dariku. Cerita dari Didan, banyak sekali orang yang ingin berfoto dengan buket bunga dariku.

Apapun akan akku lakukan, asal Didan bahagia dan tetap menganggap aku penting dalam hidupnya. Aku tidak boleh kalah dari perempuan lain. Agar Didan tetap memperhatikan aku dan menganggap aku ada untuknya.

Memang benar, Didan masih tetap menghubungiku. Tetapi dari cerita-cerita yang dia bagikan, aku tahu bahwa sepertinya dia mulai dekat dengan beberapa perempuan di kantor barunya. Aku tidak suka, sangat tidak suka keadaan tersebut. Ketika Didan mulai bercerita tentang perempuan A, B, dan C, maka sudah pasti ada sesuatu di antara mereka.

Meskipun Didan tidak pernah mengakuinya, tetapi aku yakin salah satu di antara mereka pasti ada yang dekat dengan Didan.

Ini bahaya! Begitulah yang aku pikirkan.

Ya, bahaya!

Karena itu artinya pacar Didan bertambah!

Berarti perhatiannya kepadaku akan berkurang.

Tetapi aku tidak boleh diam saja. Aku harus bergerak. Namun karena tidak ada satu pun teman kantor Didan yang aku kenal, maka aku berselancar lewat dunia maya.

Aku masuk kea kun Didan, dan teman-temannya yang perempuan aku tambahkan sebagai temanku. Aku harus mulai mencari. Kira-kira siapakah di antara mereka yang dekat dengan Didan.

Saat aku sudah tahu, aku akan mendekati perempuan itu!

Akan aku tancapkan pengaruhku kepadanya!

Tidak ada yang boleh mengalahkanku di hadapan Didan.

Aku, Sri.

Perempuan mandiri dengan pekerjaan yang mumpuni.

Secara materi, aku sudah berlebih. Bahkan kendaraanku sudah sekelas sedan yang dikendarai para menteri.

 

***

 

Wimala Anindita

Bandung, 270820

0