Bab 9. Sri ; Aku Cemburu
Novel Prosa Liris The Player Sri ; Aku Cemburu

BAB 9. SRI ; AKU CEMBURU ( Bagian 4 )

Akan aku tancapkan pengaruhku kepadanya!

Tidak ada yang boleh mengalahkanku di hadapan Didan.

Aku, Sri.

Perempuan mandiri dengan pekerjaan yang mumpuni.

Secara materi, aku sudah berlebih. Bahkan kendaraanku sudah sekelas sedan yang dikendarai para menteri.

 

***

 

Setelah sekian lama mencari, dan mengobrol dengan satu per satu teman perempuan Didan, aku sudah mencurigai tiga di antaranya.

Satu orang bernama Reny, bukan teman satu kantor. Mereka bertemu saat ada acara dari kantor kami di Cikarang ternyata. Perempuan ini pemasok makanan khas daerah. Rumahnya di sekitar Bandung. Sepertinya, dia pun sangat mengerti tentang Didan.

Satu orang lagi bernama Teni. Setahuku dia satu kantor dengan Didan. Posisinya di kantor sebagai admin HRD. Tempat duduknya dekat dengan Didan. Suka sekali membawa makanan ke kantor bahkan sering membuat sendiri kue-kue yang dibawa ke kantor.

Yang terakhir bernama Widi. Seorang janda dari Sumedang. Sudah berteman dengan Didan lewat social media beberapa lama. Tanpa mengenal satu sama lain, dia ternyata sangat tahu tentang Didan. Sangat pantas untuk di curigai.

Aku benar-benar tak mampu berkata-kata. Selama ini aku pikir Didan hanya akan mendekati perempuan yang ada di sekitarnya saja. Ternyata dia sudah merambah para perempuan di dunia maya.

Didan memang keterlaluan!

Aku mencari bukti kedekatannya dengan perempuan di kantornya, tetapi aku mendapatkan lebih dari yang aku inginkan!

Sialan!

 

***

 

Baiklah, kini saatnya ku melakukan pendekatan kepada Teni. Teman Didan di kantor. Aku harus berperan sebagai orang baik-baik.

Lewat media sosial, aku memperkenalkan diriku kepadanya. Aku melihat semua status yang dia tulis. Hmmm… rupanya perempuan ini tidak terlalu suka membuat status.

Namun aku tidak boleh kehabisan akal. Aku harus mengajaknya mengobrol. Mungkin dia lebih terbuka lewat obrolan daripada lewat status.

Memang benar, Teni orang yang ramah dan mudah berteman. Terbukti saat aku baru mulai berkenalan dengannya beberapa waktu lalu sebelum kenal lebih jauh. Aku meskipun baru taraf penjajakan untuk mencari sedekat apa dia dengan Didan, dia sudah bisa menerimaku dengan tangan terbuka.

Maka ketika aku sudah mulai mengenali dia dan mulai mengerti bahwa Teni adalah salah satu perempuan terdekat Didan di kantor barunya, aku lebih mudah untuk mencari informasi darinya. Kesimpulan awalku seperti itu. Karena dia mudah bergaul dan bias mengobrol tentang apapun denganku, yang belum begitu dia kenal.

Namun ternyata, semakin aku mencoba mendekatinya aku baru sadar bahwa Teni adalah seorang yang lumayan tertutup. Jika berhubungan dengan hal-hal umum memang dia sangat mampu bicara tentang apapun. Tetapi ketika aku mulai mencoba mencari celah dan mengorek tentang kehidupan pribadinya, dia sangat tertutup. Tidak mudah mendapatkan informasi darinya.

Tetapi dia tetap mau memberikan jawaban ketika aku bertanya tentang Didan.

Bahkan pernah suatu hari di hari kerjanya, Didan berjanji akan menemuiku di kotaku. Dia akan mengajukan cuti, katanya.

Maka hari itu saat masih pagi, aku sudah bertanya kepada Teni tentang keberadaan Didan. Dia mengatakan bahwa setahu dia, Didan sedang cuti. Ketika aku tanyakan cuti untuk urusan apa dan berapa hari, dia katakan bahwa dia tidak tahu dan kurang mengerti tentang lama cuti dan urusan cutinya Didan.

Baiklah!

Aman!

Berarti aku masih lebih mengerti tentang Didan daripada perempuan itu. Teni masih muda, jauh lebih muda dariku yang sudah berumur setengah abad lebih setengah dasawarsa.

Dia limabelas tahun lebih muda dariku. Tentu saja aku khawatir jika Didanku benar-benar luluh kepadanya.

Selain Teni, aku juga mulai mengganggu kenyamanan Reny dan Widi. Dua perempuan di luar sana yang ternyata sering melakukan janji temu dengan Didanku.

 

Wimala Anindita

Bandung, 280820

0