Bab 9. Sri ; Aku Cemburu
Novel Prosa Liris The Player Sri ; Aku Cemburu

BAB 9. SRI ; AKU CEMBURU

Sepuluh tahun kami menjalani kehidupan yang teramat bahagia. Bayangkan saja, aku merasa menjadi pasangan sah Didan selama sepuluh tahun! Melayaninya hampir tiap hari selama sepuluh tahun!

Bagiku, dia adalah suami yang selalu ada untukku saat aku membutuhkan dia. Kebutuhan rohaniku semuanya bias dia penuhi dengan sangat sempurna. Aku merasakan semua beban dalam hidupku musnah ketika dia berada di sampingku.

Aku merasakan hidupku sangat penuh, teramat sempurna. Bertemu dan bergandeng tangan dengan lelaki yang pernah aku cintai di masa mudaku, dan sekarang aku kembali merasakan hati yang menggebu terhadapnya.

Aku masih dan selalu mencintainya, ternyata. Hati ini masih selalu terbuka untuk Didan. Semua cerita hidupnya aku mengerti, karena aku selalu mendengarkan ceritanya. Bahagia dan sedih serta kebingungan yang dia ceritakan kepadaku, selalu aku simpan dan rangkai dalam album yang tersimpan dengan rapi di dalam hati.

Yah, aku hanya harus menyimpan rapi di dalam hati. Karena bagaimanapun, Aku sudah bersuami dan Didan juga sudah beristri. Di hadapan orang lain, kami hanya teman tidak lebih. Kami bisa berperan sebagai kekasih hanya ketika berdua terutama di dalam ruangan tertutup dan sepi.

Kekasih!

Sebenarnya hanya aku sendiri yang menganggap begitu. Karena lelaki yang selalu mengisi hati dan hariku itu selalu mengatakan bahwa aku adalah teman dekat baginya.

Apakah teman dekat juga saling menemani tidur?

Apakah teman dekat juga saling melumat bibir?

Apakah teman dekat saling berpelukan tanpa sehelai benang?

Apakah teman dekat saling memberikan kepuasan batin?

Apakah teman dekat selalu bergandengan tangan?

Apakah teman dekat saling mengumbar kata cinta?

Hah!

Kadang-kadang aku jengah!

Aku mengerti bahwa aku hanya seorang selingkuhan baginya. Dia juga seorang selingkuhan bagiku! Apa bedanya?

Tetapi aku tidak harus menerima perlakuan yang agak beda ketika berada di hadapan orang lain, bukan?

Hmm… yah, cinta yang bergelora di dada ini benar-benar menyiksaku. Semakin menyiksa ketika aku akhirnya harus meninggalkan dia di tempat kerja ini karena aku harus kembali ke kota di mana keluargaku berada.

Yah, aku mendapatkan pekerjaan di Purwakarta. Di sanalah keluargaku berada. Tentu saja aku tidak punya pilihan untuk menolak. Terlalu kelihatan kalau aku menolak pekerjaan yang lumayan dengan lokasi yang membuat aku bias selalu bersama suami dan anak-anakku. Padahal aku harus menutupi hubunganku dengan Didan, bagaimanapun caranya.

Maka aku pun harus meninggalkan lelaki yang telah memberikan kebahagiaan kepadaku selama sepuluh tahun terakhir. Aku tidak bisa lagi menemani malam-malamnya. Aku tidak bisa lagi berpelukan tanpa batas benang dan kain dengannya.  Aku tidak bisa lagi meminta lumatan bibirnya tiap saat. Aku tidak bisa lagi merasakan remasan jemari tangannya di bawah meja kerja.

Waktu berjalan begitu lambat.

Ah!

Aku pasti merindukanmu, Didan!

“Tidak perlu resah, Sri. Meski kau jauh di sana, engkau tetap selalu berada di dalam hatiku. Kita pasti tetap memiliki kesempatan untuk bertemu. Jangan pernah khawatir. Saat aku pulang ke Bandung atau berangkat ke Cikarang, aku pasti mampir dulu ke Purwakarta untuk menemuimu. Kita masih memiliki kesempatan untuk bercumbu dan bercinta meskipun dalam waktu yang terbatas. Bahkan keterbatasan itu akan membuat kita semakin rindu satu sama lain. Aku yakin, percintaan kita akan semakin panas dan menyenangkan.”

Didan memelukku erat sambil berbisik dengan semua kata-kata yang menenangkanku. Aku sedikit merenggangkan pelukannya, aku melihat ke dalam matanya. Mata yang menatapku lurus, tanpa bergerak ke sisi lain. Aku percaya. Aku percaya kepada pemilik mata itu.

Namun keresahan masih enggan pergi dari hatiku.

 

***

 

Wimala Anindita

Bandung, 260820

 

 

 

0