Novel Prosa LIris The Player Hatiku Terluka
Novel Prosa Liris The Player Hatiku Terluka

BAB 7. HATIKU TERLUKA ( Bagian 2 )

Aku pernah tidak bisa menerima keadaan tersebut. Tetapi masa mudaku benar-benar sudah aku habiskan untuk mendengarkan jawaban dia tentang teman dan hanya teman. Rasanya aku sudah sangat kebal dengan hal itu.

Aku hanya mencoba menerima suamiku seperti itu. Aku berpikir, mungkin dia memang sudah terbiasa berada di lingkungan perempuan. Karena kakak-kakak yang selalu menemani dia untuk bermain adalah kakak-kakak perempuannya, dan dia selalu mendapatkan semua keinginannya dari mereka. Jadi aku benar-benar menutup lubang cemburu berlebihan dalam hatiku.

Yah, suamiku adalah lelaki tak sempurna dengan tubuh yang tak terlalu tinggi namun memiliki pesona yang membuatnya memiliki banyak perempuan di sekitarnya.  Dia pandai bercerita dan membuat lelucon. Dia juga pintar memberikan perhatian. Mungkin, dua hal itu sudah bias menutupi kekurangan fisiknya.

Namun ternyata penerimaanku selama ini sepertinya menjadi sebuah kesalahan besar, karena dia menjadi keblinger dengan mencari dan mendapatkan semua perhatian perempuan di luar rumah. Mencoba mencari perhatian di luar rumah, karena aku hanya bisa memperhatikan dan berada di sampingnya hanya saat malam hari.

Didan benar-benar laki-laki gila!

Yah, gila!

Satu kata yang bias mencakup seluruh kegiatan dia bersama para perempuan di luar rumah.

Tentang media sosial, yah… suamiku memang sangat aktif menulis di sana. Bahkan saat jam pulang kerja pun dia masih sempat menulis sebuah status tentang kemacetan yang dia alami di jalan. Sangat bisa dipastikan banyaknya komentar yang muncul, dan hampir semuanya perempuan.

Ketika aku merasa keberatan tentang hal itu, seperti biasa dia mengatakan kepadaku bahwa mereka hanya teman bahkan banyak diantaranya yang tidak saling kenal. Hanya kenal di dunia maya.

Akhirnya dengan alasan agar aku tidak terbakar amarah dan cemburu buta, dia melarangku aktif di media sosial. Sebagai istri yang patuh dan percaya bahwa suamiku tidak akan macam-macam, aku mengikuti perintahnya. Lagipula suamiku sangat perhatian kepadaku dan anak-anak. Jadi ikuti saja.  Maka, aku memang mundur dari dunia maya. Karena perintah suamiku. Satu hal yang sekarang aku sesali!

Aku sungguh menyesal!

Aku tidak bisa mengontrol dia di dunia yang tidak aku diami. Aku kehilangan pegangan dan segala berita tentang dia. Karena aku percaya kepadanya.

Ternyata dia menjalin cinta dengan para durjana di dunia maya!

Sialan!

Kurang ajar para perempuan gila itu!

Beraninya mereka memacari suamiku, bahkan sampai bertemu dan melakukan segala hal yang hanya suami istri seharusnya yang boleh melakukannya.

Ternyata selama ini dia telah mengotori ranjangku dan kesucian cintaku dengan semua cairan bekas para perempuan di luar sana?

Ah!

Hanya gerimis yang kembali mengalir melewati mataku. Serasa kehilangan rasa dan hati, hidupku kosong!

Tentang segala jenis makanan yang suamiku bawa ke rumah sebagi oleh-oleh, ya memang aku pun merasa kadang-kadang makanan itu mencurigakan. Tetapi aku tidak pernah menanyakan dari mana dia beli atau dari mana dia dapatkan. Aku percaya, dia melakukan semua itu karena rasa sayangnya kepada keluarga. Tapi kenyataannya…?

Selama ini dia mendapatkan pasokan makanan dari para selingkuhannya?

Pasokan apa lagi yang dia peroleh dari para selingkuhannya?

Sialan!

Sekali lagi… Sialan!

Aku telah dicekoki makanan yang membuat dia memiliki alasan untuk bertemu atau pun mengobrol dengan selingkuhannya.

Yah, memang begitu banyak makanan dan barang-barang yang dia bawa ke rumah.

Suamiku sering membawa martabak sepulang kerja.

Dia pun sering membawa makanan khas dari berbagai daerah. Ya Tuhan, aku tidak pernah curiga atau pun bertanya tentang dari mana dia mendapatkan makanan itu.

Si penulis surat kaleng itu benar. Aku senang. Aku merasa suami sangat perhatian kepadaku dan keluarga.

Ternyata semuanya hanyalah kebohongan!

Saat kami mengadakan pesta pernikahan anak sulung kami, memang ada beberapa sumbangan dari orang-orang yang aku tidak tahu. Semuanya sudah diurus oleh suamiku. Speaker yang ada di setiap sudut gedung, bahkan dari depan sampai belakang semuanya ada. Itu adalah sumbangan dari teman suamiku. Tetapi aku tidak tahu siapa yang memberikannya.

Tentang dekorasi dan pembuatan hantaran pun merupakan sumbangan dari teman suamiku. Lagi-lagi aku tidak pernah tahu siapa yang membuat dan memberikannya.

Andai aku tahu!

Aku tak mau menerima semua itu!

Apalagi dari seorang selingkuhan suamiku!

Tidak!

Sungguh aku tidak mau!

Hah! Aku sungguh menyesali semua yang terjadi.

Jangan-jangan semua baju rajutan yang dia bawa untuk cucu kami adalah kiriman atau buatan dari salah satu selingkuhannya!

Yah… aku menyukai baju rajutan yang pernah dia bawa untuk cucu kami. Aku katakan padanya bahwa bajunya lucu dan suatu saat nanti aku mau dia belikan lagi untuk cucu kami. Cucu kami terlihat cantik saat memakai baju rajutan itu.

Ahhh…. Airmataku tak bisa berhenti menetes!

Kemudian tiap beberapa waktu dia akan membawakan cucu kami baju rajutan itu.

Aku benar-benar menyesal dengan ucapanku saat itu. Sungguh.

“Say, baju rajutan yang kau bawa itu cantik lho. Besok-besok lagi bawain lagi ya. Ketika cucu kita sudah tumbuh lebih besar. Dia terlihat lucu. Bajunya juga bagus. Benangnya lembut, tidak akan bikin kulit bayi menjadi gatal.”

Jawaban dia hanya sebuah anggukan dengan senyum manis.

Andai aku tahu, Say. Tidak akan pernah aku mengatakan tentang keindahan baju itu. Malah aku akan buang ke sampah.

 

 

Wimala Anindita

Bandung, 170820

0