Novel Prosa LIris, The Player, Kehangatan Di Masa Menengah

KEHANGATAN DI MASA MENENGAH ( Bagian 2 )

“Rieka, aku menyukaimu. Aku pun sudah merasa nyaman dengan kehadiranmu. Ayo kita pacaran. Mulai hari ini, kamu jadi pacarku. Oke. Aku tidak menerima penolakan. Jadi mulai hari ini, kamu pacarku. Tidak boleh ada orang lain yang mendekatimu.”

Aku hanya melihat kepadanya, kaget. Mulutku melongo, kaget mendengar pernyataannya kepadaku. Manusia normal atau tidakkah manusia satu ini.

Meskipun aku tidak menjawab pernyataannya kepadaku, tetapi hari itu adalah hari pertama kami berpacaran.

Menjalani hari-hari bersama memang menyenangkan. Aku merasa menemukan seseorang yang belum pernah ada dalam kehidupanku. Hatiku menjadi tenang dan riang. Rasanya ribuan warna pelangi singgah dalam gersangnya kehidupanku.

Kehadirannya sedikit mengubah jalan hidupku. Aku yang tidak memiliki banyak teman, tiba-tiba terkenal karena berpacaran dengan laki-laki yang ternyata populer di mana pun dia berada.

Tentu saja aku kaget, karena aku pikir Didan hanyalah anak lelaki yang sedikit agak nakal dan suka heboh sendiri. Ternyata temannya banyak, tetapi saying sekali kebanyakan perempuan. Namun karena caranya berbicara kepadaku yang selalu meyakinkan, aku selalu percaya kepadanya.

“Sumpah Rieka, aku Cuma sayang dan cinta kepadamu. Tidak ada orang lain yang aku sayang. Mereka semua, sebanyak apapun hanyalah teman saja. Teman biasa. Percayalah kepadaku. Sampai kapan pun aku tidak akan berkhianat kepadamu. Aku mengejarmu, karena aku menginginkanmu. Kalau misalnya di antara para perempuan itu ada yang bilang menyukaiku, ya biarkan saja. Itu hak mereka untuk menyukaiku, bukan? Yang penting aku tidak menyukai mereka seperti aku menyukaimu.”

Aku hanya diam saat mendengarkan dia berbicara panjang lebar seperti itu. Dalam hati, aku mengiyakan kata-kata Didan. Benar juga, selama dia tidak menyukai mereka ya biarkan saja. Boleh juga kata-katanya. Baiklah, aku percaya kepadanya.

Biarlah apapun kata orang, aku lebih mendegarkan semua yang dikatakan oleh Didan. Toh, mereka yang berbicara itu bukan apapun bagiku. Sedangkan Didan, dia adalah pacarku orang yang aku cintai.

Tidak terpengaruh apapun kata orang. Aku memilih untuk menjalankan itu.

Meski sebenarnya aku tahu, ada beberapa perempuan yang selalu datang ke rumah Didan, dan pulang saat bulan mulai menampakkan kecantikannya. Walaupun aku sedikit curiga, tetapi aku telah benar-benar menutup telinga pada semua kabar burung. Hanya kata-kata Didan yang aku percayai. Apalagi seperti yang Didan katakan, mereka hanya teman. Wajar saja jika teman bertandang ke rumah untuk sekedar menanyakan kabar atau mungkin untuk belajar bersama.

Aku sendiri sebagai pacar Didan, jarang bertandang ke rumahnya. Aku menunggu Didan dating ke rumah saat waktu apel, yaitu hari Sabtu malam. Waktunya semua orang yang berpacaran untuk menangkup rindu, setelah satu minggu lamanya berkutat dengan berbagai macam buku yang membuat pusing kepala.

Aku lebih suka diapelin daripada aku harus pergi ke rumahnya. Kalau dia yang datang ke rumahku, seharusnya dialah yang membawa oleh-oleh untuk aku. Bukankah begitu? Tetapi kalau aku yang ke rumahnya, berarti aku lah yang harus membawa oleh-oleh untuknya. Ah, tidaklah. Aku tidak mau.

Meskipun ternyata dia pun tidak pernah membawakan oleh-oleh untukku saat apel di malam MInggu, tidak apa. Aku menerima dia apa adanya. Aku benar-benar mencintai dia. Hatiku penuh oleh sosok seorang Didan. Aku tutup mata atas kekurangan dia. Kekurangan fisiknya yang sebenarnya kurang gagah dibandingkan lelaki lain, atau kepelitannya yang jarang membelikan aku ini itu. Tidak aku pikirkan tentang itu semua.

Benar-benar mabuk kepayang.

Di masa sekolah menengah ini, aku sudah sering sekali merasakan hangat bibirnya bermain di atas bibirku. Merasakan nikmatnya saat lidah dia memasuki rongga mulutku dan bermain di dalamnya. Aku juga sudh merasakan kehangatan jari jemarinya saat meremas jariku kemudian berpindah tempat menuju lembah di antara dua gundukan di dadaku. Tangannya akan meremas dua gunung kembar milikku, dan aku akan memberikan respon dengan sedikit mengerang karena keenakan. Tanganku juga sudah merasakan kulit tubuhnya, dari leher, dada, perut, hingga sebuah benda tegang di antara selangkangannya. Aku tahu, dia suka saat aku memegang senjatanya yang sudah mulai mengeras. Kami memberikan kepuasan satu sama lain.

Tidak!

Jangan berpikir kami melakukan hubungan suami istri!

Tentu tidak! Aku masih perawan! Meski aku sangat terpengaruh saat kami saling mencumbu, tetapi kami masih menjaga kesucian dan keperawananku.

Masa-masa sekolah menengah yang menyenangkan dan tentu saja tidak akan pernah terlupakan. Sedikit demi sedikit ada rasa ketergantungan yang aku rasakan kepada Didan. Aku tidak bisa dan tidak boleh terlalu jauh darinya. Aku tidak mau berpisah dari dia.

 

 

Wimala Anindita

Bandung, 070820

0