Novel Prosa Liris Namaku Sali
Novel Prosa LIris The Player

NAMAKU SALI

Tahun 1965 pada suatu senja dengan angin semilir yang membuat daun bambu memamerkan gemerisiknya. Seorang perempuan di dalam sebuah ruangan tertutup sedang berteriak dan menangis. Seorang perempuan tua duduk di ujung tempat tidurnya, mulutnya penuh dengan bulatan hitam kemerahan. Dia hanya melihat ke bawah sambal mengatakan, “sedikit lagi.”.

Perempuan yang sedang terbaring itu adalah ibuku. Aku tahu, dia pasti bisa melahirkan aku dengan mudah. Sudah duabelas kali dia melahirkan. Aku adalah yang ketigabelas baginya. Aku sudah tak sabar ingin keluar dari ruangan sempit ini. Ibu, tak sabar lagi aku memanggilmu seperti itu. Seperti kakak-kakakku yang selalu ramai. Aku tak sabar bertemu semua orang yang selalu menggodaku saat aku masih dalam perut ibuku. Ruang sempit nan gelap serta hangat ini segera aku tinggalkan. Ibu, benarkah aku harus pergi dari sini? Aku ingin keluar memang, bertemu dengan Ibu, Bapak, dan kakak-kakakku. Tetapi aku taku, Ibu. Bagaimana jika aku kedinginan? Apakah ibu akan mendekapku? Memberikan kehangatan yang aku sukai seperti sekarang? Aduh, kenapa aku seperti bergerak semakin menjauhi ruangan sempit ini?

Pluk!

Ceplak!

Suara keras terdengar, dan aku sudah berada dalam pelukan perempua tua yang bukan ibuku! Perempuan yang wajahnya penuh lekukan dan garis kasar. Mulutnya agak miring, dan dipenuhi bulatan hitam kemerahan. Ah, apakah barang yang menyumpal mulutnya itu? Aku takut melihatnya. Dia melihatku tanpa senyum namun juga tanpa kemarahan. Perempuan itu memiliki wajah yang tidak bisa dibaca.

“Laki-laki,’ aku dengar perempuan tua itu berkata. Sepertinya dia memberitahu ibu dan bapakku. Aku tetap berada dalam gendongannya. Kemudian aku merasakan cairan membasuh tubuhku. Darah dan air ketuban ibuku yang menemaniku selama sembilan bulan ini harus dibersihkan. Apakah aku mampu hidup di luar tubuh ibuku? Dunia di luar ini ternyata luas sekali. Aku tidak lagi terbentur saat bergerak memanjangkan kaki. Pandang mataku pun tak sehitam di dalam perut ibu. Mulai terang, abu-abu dan berbagai bayang-bayang menggoda mataku untuk berputar.

Beberapa waaktu berselang, aku mendengar suara menyebut nama tuhan di telingaku. Suara yang berat, suara yang aku sukai. Sepertinya aku akan selalu mencintai orang yang memiliki suara indah ini.

“Selamat datang ke dunia, anak ganteng. Bapak bahagia.”

Oh, ternyata dia bapakku! Haha, orang yang membuatku ada di dunia! Pantas saja aku merasa akan selalu bisa mencintainya. Perlahan aku mencoba melihat kepadanya. Aku melihat wajah tampan di sana. Pandang mata penuh rasa syukur aku lihat di sana. Dia mendekatkan wajahnya padaku, dan tiba-tiba aku merasakan hangay di dahiku. Apakah bapakku menciumku? Ah… beginikah rasanya dicium? Hangat dan nyaman.

Perempuan tua yang menggendongku tiba-tiba melepasku dan menempatkan aku di pelukan lain. Seorang perempuan cantik telah menempatkan aku dalam pelukannya. Sebuah pelukan yang sangat hangat. Kehangatan yang mengingatkanku pada kehangatan perut ibu selama Sembilan bulan. Apakah permpuan ini ibuku? Kalua benar, alangkah bahagianya aku. Ibuku ternyata cantik sekali. Senyumnya teduh, seperti lindungan pohon beringin di siang hari saat panas terik menyengat kulit.

“Anak ganteng, akhirnya ibu bias memelukmu. Syukurlah kau lahir lancar dan sempurna.”

Ah, benar juga. Dia betul-betul ibuku. Jadi bahagiaku di hari kelahiranku ini sungguh sempurna. Bapak tampan dan ibu cantik jelita. Maka aku yakin, pasti aku tumbuh menjadi pria yang memesona. Hahaha, sungguh aku tak sabar menantikan kegantenganku saat besar nanti.

Ah, sepertinya keinginanku masih hanya dalam angan saja. Bahkan berjalan pun aku belum mampu. Untuk melihat matahari bersinar bukankah aku harus melewati malam? Sebuah ruang gelap yang kadang penuh bintang, seringkali kosong. Bahkan bulan pun sering enggan menampakkan diri. Jadi aku harus melewati berapa ratus perputaran bulan untuk membuktikan pesonaku?

Aku harus menjadi saksi dari ribuan bintang yang berganti tiap malam. Mungkin memang begitulah hidup para dewasa. Melewati berbagi musim yang basah penuh air pun musim yang kering kerontang bagai gurun pasir tanpa oase.

Maka aku adalah seorang bayi yang bahagia. Dengan seorang ibu dan bapak yang sangat menyayangiku. Ditambah duabelas saudaraku yang selama ini selalu menggoda aku saat masih di dalam perut ibu. Aku tak sabar menanti keramaian mereka saat aku benar-benar sudah hadir di antara mereka.

Apakah kakak-kakakku akan menyayangiku?

Apakah mereka akan mengajakku bermain?

Apakah mereka bisa menerima kegantenganku? Hahaha.

Apakah mereka sudah tua?

Apakah mereka bias menerima adik kecilnya yang lucu ini?

Berbagai pertanyaan menumpuk dalam kepalaku yang mungil, kepala sekepalan tangan ibuku yang sudah penuh dengan berbagai perkiraan tentang jalannya kehidupanku.

Ah, berlebihan tentunya.

Aku sudah tahu bahwa kakakku ada duabelas orang. Mungkin beberapa kakakku sudah sekolah di tingkat lanjutan atas. Lalu aku berharap mereka yang mulai dewasa itu bermain denganku. Sebuah kemustahilan dalam mimpiku meski aku belum pernah bermimpi.

Ah, sudahlah. Untuk apa aku harus banyak berpikir. Bukankah sekarang masaku untuk minum susu ibu? Hari ini adalah sejarah, hari pertamaku hadir di dunia. Hari pertamaku merasakan air susu ibu, air yang akan memperlancar aliran darah dalam tubuhku dan membuat aku cepat besar.

Baiklah sudah selesai membahas tentang ketakutan serta kebingunganku tentang dunia baru yang harus aku jalani.

 

***

 

Ibu dan bapakku terlihat sangat senang melihatku. Tiap hari mereka tertawa dan menggodaku. Mereka mengatakan segala hal yang indah dan manis, bagai es krim yang sering dimakan kakak-kakakku. Yah, aku merasa es krim itu manis dan sangat enak. Wajah mereka begitu berbeda saat menikmati. Lidah mereka menjilat dengan sangat rakus. Mereka piker, aku tidak ingin ikut merasakan es krim itu? Tentu saja aku sangat ingin ikut merasakan manis dan enaknya.

Sayang sekali, aku masih bayi. Hanya makanan lembut yang masuk mulut, namun makanan dingin taka da satu pun yang melewati tenggorokan kecilku. Aku sangat menantikan waktu untuk merasakan nikmatnya es krim itu. Bagai bunga yang mekar dan harus harus melewati masa menjadi kuncup terlebih dahulu. Begitulah kehidupanku, juga kehidupan kalian.

 

***

 

Sali. Begitulah semua orang memanggilku. Memberikan tanda untuk membedakan aku dari anak-anak lain. Sebuah tanda, sebuah nama panggilan. Seperti panggilan untuk bunga melati atau bunga mawar, bahkan bunga rumput yang tumbuh di pinggir jalan.

Aku sudah mulai mekar perlahan. Kuncup ini telah mulai membuka kelopak sedikit demi sedikit. Telah aku kenali wangi tiap warna yang aku temui. Telah aku ketahui sebuah warna merah dan panas yang keluar dari mata ibuku, ketika aku berlari menjauhinya dan lebih suka bermain di kebun bersama teman-teman.

Teman, ya aku mulai mengenal beberapa anak kecil lain di sekitar rumahku. Aku bermain di kebun, sambil mencabut singkong atau memetic jagung yang telah mulai berbuah. Tangan kami memang sangat terampil, kami bias melakukan apapun yang kami mau. Ketika pemilik kebun berteriak dan mengejar kami, tentu saja kaki-kaki kecil ini akan segera menjalankan tugasnya dengan sangat baik. Melangkah dengan cepat dan semakin cepat, dengan kecepatan angin yang menembus sela-sela daun bambu. Berlari! Ya, orang-orang menyebutnya begitu.

 

Wimala Anindita

Bandung, 010820

 

0