Nanyian Navya
Liris Prosa LIris Nyanyian Navya Permission To Dance BTS

Nyanyian Navya

I wanna dance, the music’s got me going

Ain’t nothing that can stop how we move

Let’s break our plans and live just like we’re golden

And roll in like we’re dancing fools

 

Sepasang kelopak yang aku punya memang bukan seperti sayap kupu-kupu yang anti lengket. Lagu kesukaanku telah memenuhi udara di dalam kamar, aku harus bangun. Tapi, ah, mataku masih sulit diajak berteman. Sebenarnya kalau boleh memilih, aku lebih suka mendengar lagu indah itu hingga selesai. Namun tubuh dan hatiku lebih memilih untuk bergerak dan bangun dari ranjang.

Namaku Naura, gadis delapanbelas tahun dengan rambut sepunggung berwarna hitam kecoklatan dengan sedikit gelombang di bagian bawah. Orang bilang, kulitku bersih dan halus meskipun tidak semulus pualam. Sekarang ini, aku memasuki semester tiga di Fakultas Kedokteran sebuah kampus ternama di kotaku.

Aku memiliki seorang sahabat yang berkuliah di tempat yang sama denganku. Dia Navya, gadis cantik dengan mata bola pingpong, kulit putih bersih, dan rambut lurus sepanjang bahu. Dibandingkan denganku, dia adalah gadis yang sangat rapi dilihat dari cara berpakaian atau menata kamar.

Ah, aku menyerah untuk hal kerapian ini. Biarlah Navya saja yang mendapatkan pujian, aku tak akan  keberatan.

Aih, karena terlalu banyak bercerita maka aku kesiangan! Ayo cepat! Aku harus segera mandi dan menjemput Navya. Jam kuliah pertama, dosennya menakutkan! Aku harus cepat, agar tidak telat masuk kelas.

 

***

Tet Tet!! Tet Tet!!

Tepat di depan rumah Navya, aku bunyikan klakson mobil agar dia tahu bahwa aku sudah sampai di sini. Aku lihat Navya melongokkan kepala dari jendela rumah. Dia melambaikan tangan, dan membuat tanda, meminta aku untuk menunggu sebentar.

Navya adalah sahabatku dari sejak sekolah dasar. Bisa dibilang kami tumbuh bersama. Namun sejak kelas tiga sekolah dasar, sekitar umur sembilan tahun, dia mengalami gagal bicara dan kakinya tidak bisa berjalan normal.

Dia mengalami kecelakaan mobil bersama kakek neneknya. Sepertinya dia mengalami benturan pada kepala dan belakang leher yang mengakibatkan dia tidak bisa mengeluarkan suara lagi saat berbicara dan pendengarannya juga berkurang. Navya sering menangis dan selalu merasa tidak berguna, apalagi saat dia tahu bahwa kakinya pun tidak lagi bisa digunakan sebagaimana mestinya. Dia menjadi pincang saat berjalan.

Pada awalnya aku memang tidak mengetahui keadaan ini. Yang aku tahu, Navya mengalami kecelakaan dan harus dirawat selama dua bulan.

“Ma, aku ingin menjenguk Navya. Aku kangen.” Kataku kepada mamaku saat itu.

Namun mama masih terus menunda untuk mengantarku ke rumah sakit. Beliau selalumembuat alasan. Hingga dua bulan kemudian, mama membawaku bertemu Navya di rumahnya.

Aku melihat mata Navya bengkak karena menangis. Dia hanya duduk di atas tempat tidurnya sambil memeluk kedua kakinya.

Aku datang, berlari dan memeluknya.

“Vya, aku kangen! Sudah dua bulan kita tidak bertemu. Bagaimana kabarmu? Kamu sudah membaik kan? Mana yang sakit, Vya? Biar aku pijitin ya?” aku terus berbicara tanpa jeda.

Aku melihat mamaku langsung memeluk mama Vya dan membiarkan kami berdua di kamar. Kaki Vya yang sebelah kiri dibalut perban banyak sekali. Pasti sakit ya Vya. Aku hanya mampu memegangnya sebentar, pasti tidak boleh dipijat kan?

Navya memelukku dengan erat, airmatanya terus mengalir. Saat dia melepaskan pelukanku, dia mengambil sebuah buku kecil dan pulpen di samping tempat tidurnya. Dia menuliskan sesuatu.

[ Naura, aku tidak bisa bicara. Suaraku tidak mau keluar. ]

Dia memperlihatkan tulisan itu kepadaku dan kembali menangis terisak. Aku kaget! Ya, aku kaget! Navya yang sangat suka berdendang, tidak bisa lagi berbicara?

Ya Tuhan! Aku menangis saat itu juga! Hatiku sakit!

Navyaku, teman terdekatku, sahabat terbaikku, kesakitan dan larut dalam kesedihan selama dua bulan terakhir dan aku sama sekali tidak menemani dia? Sahabat tapi tidak berlaku sebagai sahabat! Aku benar-benar terluka dengan keadaan ini.

Sebagai anak umur sembilan tahun, apa yang bisa aku lakukan untuk sahabatku? Aku hanya bisa bergantung kepada orangtuaku. Mamaku menyembunyikan keadaan Navya dengan sangat rapi. Aku tahu, mama tidak ingin melihat aku bersedih.

Sungguh sangat bersyukur Navya memiliki orangtua dengan pemikiran positif. Papa mamanya melakukan segala hal yang mereka mampu untuk menaikkan semangat gadis kecil mereka.

Aku? Aku hanyalah Naura, pemeran pembantu dalam seluruh kegiatan yang dilakukan. Namun meskipun aku hanyalah pemeran pembantu, aku tetap melakukan semuanya.

Membantu Navya agar bersemangat untuk kembali bersekolah. Navya juga mengikuti berbagai kegiatan di luar sekolah.

Tentu saja dengan dukungan dari orangtua kami masing-masing. Aku beruntung, mama papaku sangat membantu agar segala yang terkait dengan pemulihan Navya berjalan lancar.

 

***

Ketika Navya mulai kembali masuk sekolah, aku sangat bahagia. Aku benar-benar bahagia. Semangatnya kembali menyala.

Ya, Navya jadilah seseorang yang bersemangat dan gigih serta selalu percaya diri sesuai namamu. Aku pasti mendampingi dan menemanimu. Percayalah, teman baikmu ini pasti mampu menjadi pendukung terhebat bagimu.

Sejak hari itu, aku tidak terpisahkan dengan Navya. Kalian lihat Navya? Di situ ada aku, kan?. Bahkan aku pun juga ikut belajar bahasa isyarat bersamanya.

Kami belajar Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) dan juga Sistem Bahasa Isyarat Indonesia (SIBI). JIka BISINDO menggunakan dua tangan, maka SIBI hanya menggunakan satu tangan saja. Aku bertemu banyak teman di sana, demikian pula Navya yang bertemu dengan berbagai macam teman dengan permasalahan masing-masing.

Kami belajar di sini sesudah pulang dari sekolah umum. Sekolah ini semacam kursus ketrampilan.

Bertemu dengan banyak teman seperti ini, membantu dia meningkatkan kepercayaan dirinya kembali. Dialah kembang yang sedang mekar dengan aroma wangi di antara bunga lain di taman ria penggodokan diri. Aku juga ikut digodog di sana, tidak boleh sombong hanya karena aku terlihat sedikit lebih sempurna secara fisik dibandingkan teman-teman yang lain.

Mereka ternyata memiliki banyak sekali kemampuan yang jauh lebih hebat daripada orang normal lho. Ada yang jago bermain piano, ada pula yang mahir desain dan pandai membuat program komputer.

Aku merasa sangat tertantang saat melihat kemampuan mereka.

Jangan lupakan juga perjuangan Navya saat sekolah di sekolah umum, kembali masuk ke sekolah yang sama denganku.

Banyak sekali teman yang bergunjing dan membicarakan Navya. Aku sama sekali tidak terima dengan semua. Aku datangi mereka, dan aku tantang mereka. Aku mau tahu, apakah kemampuan dan pemahaman mereka tentang pelajaran jauh lebih tinggi daripada Navya?

Bagaimana mungkin mereka membicarakan sahabatku yang hanya tidak bisa berbicara dan berjalan sedikit tertatih?

“Hai kalian! Dia Navyaku! Dia Vya kesayanganku! Dia  adalah gadis hebat! Di usia yang belum genap sepuluh tahun, dan mengalami kecelakaan hebat yang membuatnya kehilangan kemampuan berbicara, namun masih memiliki semangat membara untuk belajar dan menuntut ilmu. Dia memiliki cita-cita hebat! Kami berdua akan menjadi dokter suatu saat nanti. Jadi jangan asal mencibir! Kalian tida tahu tentang perjuangan hidupnya! Jadi diam sajalah daripada hanya menyakiti. Berbicaralah saat berusaha menopang usaha kami, berusaha membuat Navya memiliki semangat kembali.”

 

***

 

Navya dan aku belajar di sekolah Bahasa isyarat selama beberapa tahun, sampai kami kelas dua sekolah menengah atas. Kami memutuskan untuk fokus kepada sekolah kami, karena kami harus mempersiapkan diri untuk masuk Fakultas Kedokteran sesuai cita-cita kami.

Jangan dikira perjalanan Navya sangat mudah. Dengan kaki yang sedikit pincang dan tidak bisa bicara, ditambah lagi dengan pendengaran yang sedikit berkurang, dia benar-benar pernah berada dalam keadaan terpuruk. Sangat terpuruk.

Bahkan dia pernah tidak bersedia bertemu, meski denganku. Termasuk tidak mau sekolah karena merasa malu kepada teman-teman. Tapi semua sudah berlalu. Sekarang, Navya sudah bisa menerima semuanya dengan lapang dada.

Aku menjadi salah satu orang yang selalu mendampinginya, sampai sekarang. Bahagia rasa hatiku melihat Vya yang selalu bersemangat seperti ini.

Saat Vya sampai di mobil, dia berkata dengan menggunakan isyarat tangan bahwa dia sangat bahagia dan merasa semakin percaya diri saat menerima video  lagu yang aku kirimkan kepadanya tadi malam.

Ya, memang video musik dari BTS, salah satu K-Pop terkenal dunia ini memang sangat menginspirasi. Membuat semua yang mendengarnya bahagia, ditambah lagi dengan tariannya yang menggunakan bahasa isyarat tangan yang artinya mari menari, berbahagia, dan damai.

We don’t need to worry

‘Cause when we fall, we know how to land

Don’t need to talk the talk, just walk the walk tonight

‘Cause we don’t need permission to dance

 

There’s always something that’s standing in the way

But if you don’t let it faze ya, you’ll know just how to break

Just keep the right vibe, yeah, cause there’s no looking back

There ain’t no one to prove, we don’t got this on lock, yeah

 

The wait is over

The time is now, so let’s do it right

Yeah, we’ll keep going

And stay up until we see the sunrise

And we’ll say

 

I wanna dance, the music’s got me going

Ain’t nothing that can stop how we move

Let’s break our plans and live just like we’re golden

And roll in like we’re dancing fools

 

Lagu ini lagu untukmu, Navya. Teruslah bernyanyi. Meski suara indahmu tak bisa lagi terdengar, namun hatimu yang selalu bahagia adalah musik dan nyanyian terindah yang bisa aku rasakan.

Berbahagialah sahabat tercinta, dan damailah selalu dalam hidupmu.

Aku selalu mencintaimu.

 

12082021

 

Wimala Anindita