AKU HARUS BAGAIMANA, BU?

Bu, hari ini aku harus membuat sebuah senandika tentangmu. Tetapi aku masih tidak tahu cerita mana yang harus aku sajikan di sini.

Ada begitu banyak cerita yang aku punya tentangmu. Aku ingin memulai meski kebingungan masih mengitari. Kebingunganku untuk memilih kejadian atau peristiwa.

Ibu, Aku menjadi saksi yang melihat dan mendengar bahwa Ibu adalah perempuan yang tegar. Ibu mampu bertahan dalam segala keadaan.

Hmmm… Tentang keadaan, rasanya aku ingin berkisah tentang kelahiranku. Boleh ya, Bu?

Bu, rasa sakit yang kau alami selama tiga hari tiga malam untuk melahirkanku tak akan pernah bisa aku gambarkan.

Duh!

Tak terbayang sakitnya!

Bahkan sampai sekarang, saat aku sudah memiliki anak sendiri.

Kala itu Kau kesakitan dan berpindah dari rumah sakit satu ke rumah sakit lain agar aku bisa dilahirkan. Mengapa kau tak pikirkan keselamatanmu sendiri, Bu?

Badanmu yang mungil dan pinggul yang kecil membuat aku sulit keluar dari gua garbamu, Ibu. Mengapa Kau masih perjuangkan aku? Padahal dokter sudah hampir menyerah. Operasi cesar belum umum dilakukan saat itu, kan? Jadi, mengapa Kau masih berjuang untukku? Andai kau ikhlaskan aku saat itu, kau tak perlu menambah sakit lagi dan kau tak perlu melihat kondisiku yang penuh luka di sekujur tubuh setelah dilahirkan. Engkau pun tak perlu menangis ketika mendengar vonis dokter bahwa umurku tidak akan lama. Kau juga tak perlu melihat cacat lahir bawaan yang aku miliki, Bu.

Ibuku sayang…. Apakah ibu baik-baik saja setelah kesakitan selama tiga hari tiga malam? Apakah alat-alat kedokteran yang membantuku keluar dari perutmu itu sangat menyakitimu, Bu? Ah…sebuah tanya yang tak perlu dijawab. Aku tahu, pasti sangat sakit meskipun kau katakan tidak sakit sama sekali. LIhatlah Bu! Badanku pun penuh luka! Bagaimana mungkin tak ada luka di tubuh mungilmu?

Maafkan aku, Bu. Huru hara kelahiranku telah membuatmu sakit fisik dan batin. Namun ternyata airmata belum usai mengaliri wajahmu. Ibu masih berjuang agar cacat bawaanku segera sembuh dan aku bisa hidup normal. Bahkan engkau menolak semua vonis tentang umurku yang tak akan lama.

Berusaha! Hanya berusaha!

Terus dan terus!

Ibu!

Kau berhasil! Lihatlah! Aku tumbuh sempurna dan masih hidup sampai hari ini!
Terimakasih untuk semua perjuanganmu untukku, Bu. Aku masih belum mampu membayar semuanya! Bahkan aku yakin, aku tidak pernah bisa membayar. Walau hanya satu tetes airmatamu untukku, aku tetap tidak mampu membayarnya.

Lalu Aku harus bagaimana, Bu?

 

 

27Juli2021

 

0