SENDIRI

Perlahan aku membuka mata. Dingin yang menyelimutiku semalam, menghilang perlahan. Berganti hangat mentari yang memancarkan sinar malu malu.

Namaku Eli, aku seekor gajah. Memiliki badan besar, dengan dua telinga sangat lebar. Hidungku panjang, biasa disebut sebagai belalai. Kulitku berwarna abu-abu, namun sering terkena debu dan lumpur sehingga menjadi kecoklatan. Aku biasa hidup berkumpul dalam kelompok. Aku sudah tidak memiliki ayah dan ibu. Mereka sudah pergi meninggalkan aku. Sejak kepergian mereka, aku hidup bersama teman-temanku. Aku paling muda dan kecil di antara mereka.

Pagi ini saat aku membuka mata, aku sendiri. Teman-temanku tidak ada di sekitarku. Dimanakah mereka? Tersesatkah aku? Tetapi tadi malam kami tidur bersama-sama. Aku tak mungkin tersesat. Tempat aku tidur masih sama. Sebuah padang dengan hamparan rumput yang sebagian besar mulai mengering karena kurang air.

Bingung. Kepada siapa aku harus bertanya? Apakah rumput tahu yang telah terjadi?

 

“Rumput! Dimanakah teman-temanku? Apakah kau melihat mereka?” tanyaku kepada rumput.

 

Rumput bergoyang dan menjawab, “mereka pergi tengah malam tadi. Kenapa kau tidak ikut mereka?”

 

Ah, aku sama sekali tidak tahu bahwa mereka pergi.

Kemana tujuan mereka?

Mengapa aku tidak dibangunkan?

Apakah mereka tidak mau berteman denganku lagi?

Apakah karena cacat tubuhku?

Begitu sulitkah berteman denganku?

Malukah mereka bermain bersamaku?

 

Aaaarrrrggghhh!

Aku diabaikan!

Kurang ajar!

Sialan kalian!

Pergilah!

 

Aku Eli, seekor gajah yang lahir dengan tubuh tidak sempurna.

Mata sebelah kanan tidak bisa melihat. Telinga kanan, kaku tidak bisa berkibar. Itulah sebabnya teman-teman sering memanggilku dengan sebutan Eli njepiping.

Tetapi aku tidak pernah meminta dilahirkan dengan keadaan seperti ini bukan?

Apakah keadaan tubuh yang tidak sempurna ini yang membuat orangtuaku pergi dariku?

Benarkah mereka meninggal karena sakit?

Atau pergi meninggalkan aku?

 

Jika semua itu benar, apa salahku?

Mengapa aku ditinggalkan karena ketidaksempurnaanku?

Tuhan!

Engkau yang membuat aku begini!

Aku tidak meminta!

Mereka menghinaku!

Aku mau hidup bahagia!

Aku tidak mau dilecehkan!

Direndahkan karena kondisi tubuh!

Tidak!

Aku tidak mau!

 

Namaku Eli, aku seekor gajah. Sudahlah. Aku harus menepis rasa sakit di hati. Aku enggan larut dalam sedih dan marah. Aku akan buktikan bahwa cacat tubuh tidak pernah membuatku gentar menghadapi dunia.

Mata kananku boleh tanpa cahaya. Tapi aku masih punya cahaya di hatiku. Mata kiriku pun masih bisa jelas melihat.

Telingaku boleh disebut njepiping karena kaku. Tapi pendengaranku masih sangat baik. Telinga kiriku juga masih bisa berkibar sempurna.

Aku pun masih memiliki belalai untuk menyemprotkan air ke seluruh tubuh saat kepanasan.

 

Aku tidak cacat. Aku hanya dilahirkan sedikit berbeda.

 

Siang semakin panas. Tenggorokan terasa makin kering. Aku butuh air. Aku kehausan.

 

“Rumput, dimanakah aku bisa mendapatkan air untuk minum?” tanyaku.

 

“Mata air terdekat ada di ujung padang ini, Eli. Berjalanlah ke sana,” ucap rumput.

 

Aku terus berjalan menuju mata air. Panas yang makin menyengat tak aku hiraukan. Aku harus segera mendapatkan air. Aku harus segera menghapus rasa haus. Tenggorokan semakin tercekat. Aku harus bisa bertahan.

 

Ah, itukah mata air?

Mataku menangkap kilatan di ujung padang.

 

Di kejauhan aku melihat pohon yang terlihat lebih hijau dibandingkan pohon lain. Rumput di bawah pohon itu pun terlihat lebih segar dibandingkan rumput yang aku injak.

Mungkin disanalah mata air yang disebut oleh rumput. Aku berjalan semakin cepat. Tak sabar untuk segera menghilangkan dahaga.

Ternyata benar, di bawah pohon besar dengan daun hijau terdapat mata air. Aku langsung menuju ke arah mata air.

“Hai pohon besar, bolehkah aku meminta sedikit air dari mata air ini?” tanyaku kepada pohon besar.

“Tentu saja, Gajah. Ambillah air ini. Engkau pasti kehausan. Panas sangat menyengat. Di sini hampir terjadi kekeringan,” sahutnya.

Aku langsung meminum dari mata air.

Slurp.

Glek.

Segar.

Rasa haus telah hilang. Dahaga terobati.

 

“Kenalkan, namaku Eli,” kataku kepada pohon besar.

Pohon besar tersenyum, “Halo Eli. Mengapa engkau sendiri? Biasanya gajah hidup berkelompok.”

 

Aku diam. Termenung. Kesulitan menjawab pertanyaan.

Haruskah aku bercerita?

Sedangkan aku pun tidak tahu alasanku hidup sendiri.

 

Ha! Tiba-tiba sebuah gagasan melintas memutari isi kepala.

 

Ya! Aku akan menjawab pertanyaan pohon dengan kalimat yang bisa membuat semua bersemangat.

 

Aku dan juga pohon serta rumput pasti senang dengan jawabanku.

 

“Aku berada di sini untuk berbagi kebahagiaan dengan teman-teman semua!”

 

“Aku akan menyemprotkan air dari mata air ke arah rumput dan pohon yang jauh dari sini.”

 

“Agar semua bisa merasakan segarnya air ini. Dan tidak ada satu pun dari kita yang merasakan kekeringan!”

 

 

Namaku Eli, seekor gajah. Ditinggalkan sendiri oleh kawananku. Tidak mengapa. Kini, aku punya kehidupan yang bahagia. Tidur di bawah pohon besar. Saat siang mulai menjelang, aku akan menyemprotkan air dengan belalaiku ke arah rumput-rumput yang sudah mulai menguning. Mengirimkan air untuk pohon-pohon yang mulai menanggalkan daunnya untuk menghemat makanan.

 

Lihatlah sekarang!

Kegiatan baruku. Membantu teman-teman agar tidak kehausan. Kini, mereka sudah mulai menghijau. Daun yang luruh mulai tumbuh.

 

Aku bahagia!

Biarlah aku sendiri di sini!

Persetan dengan semua teman-teman yang meninggalkan aku!

Aku bisa hidup tanpa mereka!

Bahkan aku bisa makan dan minum dengan lebih leluasa.

 

Kekeringan?

Aku sudah menjauh dari kata itu.

 

Namaku Eli, seekor gajah. Hidup sendiri tidak membuat aku susah. Aku masih hidup. Bahkan lebih bahagia. Cacat tubuh tidak membuat aku merasa kekurangan.

 

 

****

Wimala Anindita

Bandung, 030719

0