SURAT CINTA TIGA LELAKI UNTUK SEORANG PEREMPUAN

Untuk Mamah tercinta. Hari ini Abah harus bicara, Mah. Abah sudah tahu dan mengerti semuanya. Bahwa hati dan perasaan Mamah sudah bukan untuk Abah. Seorang lelaki beristri di luar sana telah menggetarkan hati Mamah. Kenapa? Apakah karena dia memiliki mobil roda empat? Apakah karena berbagai macam reuni dan acara makan bersama itu? Apakah karena Abah jarang di rumah? Mah, Abah memang bukan lelaki sempurna. Tapi Abah mencintai Mamah. Mamah harus tahu bahwa Mamah adalah istri Abah satu-satunya. Cinta dan hidup Abah selamanya.

Jangan cemari keindahanmu yang selama ini menggoda nuraniku. Kau, tercantik di antara yang cantik. Kau, terpilih di antara yang lain. Jagalah rasa yang pernah ada di antara kita. Lihatlah anak-anak. Tidakkah kau tergetar? Anak-anak sudah beranjak besar, masihkah kau berikan contoh menyesakkan bagi mereka?

Kembalilah, Mah. Sebelum Abah lelah.

 

***

 

Abang sudah beranjak dewasa, Mah. Delapanbelas tahun, Mah! Abang sudah lulus dari pesantren. Tetapi Mamah bermain cumbu dengan lelaki beristri? Aku malu. Sebagai anak lulusan pesantren, mestinya Abang pulang ke rumah dengan bahagia, dan meneruskan cita-cita. Tapi Abang hanya menemui Mamah yang badannya ada di rumah, tetapi hati dan pikirannya selalu menuju lelaki beristri itu. Sadarlah, Mah. Dia sudah punya istri, anak, bahkan cucu. Apa yang Mamah cari? Tidak cukupkah cinta Abah, Abang, dan Adek? Kami mencintai dan menyayangi Mamah.

Kenapa Mamah lebih mencintai dia yang terlarang? Mah, Abang malu. Tinggalkan dia, Mah. Atau Mamah memilih untuk tidak lagi bertemu Abang? Apa sih hebatnya lelaki beristri itu? Yang pasti, kalaupun Mamah meninggalkan kami, dia pasti tidak akan meninggalkan anak istrinya. Lagipula bukan hanya Mamah yang dia selingkuhi! Banyak perempuan lain yang dia cumbu, seperti dia mencumbu Mamah!

Abang sudah mulai menyukai seorang gadis, Mah. Andai gadis ini anak Mamah, bolehkah dia memiliki suami seperti pacar Mamah?

Astaghfirullah. Sadarlah, Mah. Mamah sudah memberikan contoh buruk bagi kami.

 

***

Adek sudah besar lho Mah. Adek sudah mengerti bahwa Mamah punya selingkuhan.

Adek sudah tahu artinya.

Adek tidak akan banyak bicara. Adek hanya mau Mamah tahu, bahwa Adek malu punya Mamah dengan kelakuan begitu. Menggoda suami orang! Buruk sekali kelakuan Mamah. Jika Mamah bilang, lelaki itu yang menggoda, toh Mamah ternyata mau dan bersedia untuk dia jamah. Lalu apa bedanya?

Adek tidak mau punya mamah seperti Mamah! Itu kalau Adek bisa memilih. Sayang, Adek hanya bisa pasrah. Mamah tahu? Abah dan Abang juga Adek sebenarnya sudah tahu semuanya sejak lama. Adek sungguh bangga pada Abah. Beliaulah yang selalu meredakan amarah kami.

Tetapi jangan salah, Mah. Akan ada waktunya Abah lelah.

2