TUNGGULAH, AKU AKAN DATANG

“Reina! Tunggu aku!” teriakku lantang.

Aku berlari mengejar bayang kekasihku. Baru saja aku melihatnya berdiri di hadapanku. Dia tersenyum getir. Wajahnya penuh keresahan dan kesedihan. Namun aku tidak pernah bisa melihat di kedalaman matanya.

“Apakah engkau menungguku, Sayang? Engkau selalu datang kepadaku seperti ini. Tiap malam, ketika mata enggan terpejam. Kau selalu hadir di hadapan. Merentangkan kedua tangan. Aku tahu, kau inginkan pelukanku. Namun tiap kali aku berlari untuk memelukmu, kau tiba-tiba pergi. Hilang. Raib. Kemanakah dirimu?

Reinaku sayang, tunggulah aku. Aku akan segera datang. Menemanimu, bergandeng tangan, dan berpelukan hangat adalah keinginanku saat ini. Aku, Rio. Kau tahu kan? Cinta yang teramat besar dan keinginan untuk selalu berdua, telah memberiku kekuatan agar bisa segera menyusulmu. Teruslah memberiku semangat tiap hari, Sayang. Akan segera tiba waktunya aku berada di sisimu.”

Melihat kekasihku di depan mata adalah keinginan terbesarku saat ini. Aku bersyukur, Reina selalu datang menengokku. Namun wajah cantiknya menyiratkan luka. Aku harus segera mendatanginya, agar wajah cantik itu kembali ceria. Tidak ada lagi kesedihan dan keresahan.

Dunia kami yang berbeda, membuat banyak halangan terbentang. Keinginan untuk saling berpegang tangan, membuat aku hanya menggenggam udara saja.

***

Hari ini aku akan memenuhi janjiku pada Reina, kekasih hatiku. Aku pergi bersama teman-teman. Mendaki gunung adalah caraku untuk mendekat ke tempat di mana Reina berada.

“Hai Bro! Pa kabar?” sapa seorang teman pendaki.

“Kabar baik, Bro,” sahutku santai.

“Wajahmu kenapa terlihat sedih dan gelisah, Rio?” tanya seorang teman sambil merangkul pundakku.

“Ah, aku sedang dirundung masalah cinta nih,” sahutku santai.

“Kenapa? Kamu ditinggalin sama cewekmu? Selingkuh?”

“Bukan. Dia perempuan terbaik yang aku kenal. Dia meninggalkanku bukan karena tertarik pada pria lain. Tuhan memanggilnya. Dia hidup di dunia yang berbeda denganku, saat ini. Kami sudah merencanakan pernikahan sebelum dia mengalami kecelakaan. Aku ingin merengkuhnya dalam pelukan. Aku tidak bisa lagi melihat mata indahnya saat memandangku.

Dia pergi saat dunia kami terasa sangat indah. Namanya Reina. Nama yang tidak akan pernah hilang dari dalam hati dan pikiranku. Saat ini dia menungguku. Aku tahu dia menungguku. Aku akan segera menemaninya. Dia berjanji menunggu kedatanganku. Kami ingin selalu berdua. Hanya itu keinginan kami.”

Panjang lebar aku menceritakan kepada teman-teman pendaki tentang Reina dan hubungan cintaku. Mereka harus tahu bahwa kami benar-benar saling mencintai dan tidak bisa dipisahkan.

Reina, adalah gadis cantik yang selalu menemani hari-hariku. Bersamanya, aku akan segera mengarungi dunia bersama. Cinta kami telah menyatukan dua hati dalam sebuah ikatan bernama pertunangan.

Aku bertemu dia ketika naik gunung kala itu. Rambut panjangnya yang dikuncir kuda, membuat dia terlihat begitu lucu. Senyum dan tawa yang selalu menghiasi wajahnya membuat aku terpesona.

“Gadis yang ceria,” gumamku sambil memandang dari jauh.

Dia, Reina. Aku pun pada akhirnya bisa berkenalan dengannya lewat seorang kawan. Pertemuan berulang, membuat kami semakin dekat dan kami berpacaran.

Berselang sekian lama setelah menjalin hubungan, kami memutuskan untuk lebih memperjelas hubungan kami berdua. Pertunangan adalah pilihan kami.

Maka aku, lelaki bernama Rio merasa amat bahagia dan beruntung memiliki Reina dalam kehidupan yang hampir sempurna ini.
Setahuku, Reina juga sangat bahagia dengan pertunangan Kami. Dia terlalu mencintaiku, sebagaimana aku pun sangat mencintainya. Kami hanya ingin selalu bersama.

Tetapi beberapa setelah pertunangan, Reina meninggalkanku karena kecelakaan.

***

Setelah istirahat dan cerita selesai, kami meneruskan perjalanan menuju puncak. Aku ikut berjalan bersama mereka, dan memisahkan diri sejenak dari mereka. Aku akan menemui Reina, kekasihku.
Reina, yang selalu berbicara kepadaku.

Aku ingin berdua denganmu
Di antara daun gugur
Aku ingin berdua denganmu
Tapi aku hanya melihat keresahanmu

Aku memang selalu merasakan keresahan dalam hatiku. Bagaimana tidak resah, jika keinginanku hanya berdua dengannya. Tetapi dunia kami berbeda.

Hari ini, aku akan memenuhi janjiku pada Reina. Aku datang kepadanya sebagai pendamping.

Lihatlah Reina, aku sudah persiapkan semuanya. Aku telah memilih sebuah tempat untuk kita bertemu. Tempat dimana bertumpuk daun gugur. Di sinilah, di antara daun gugur ini aku penuhi janjiku. Agar aku bisa melihat lagi indah matamu. Agar aku bisa memeluk dirimu.

Tunggu sebentar lagi. Aku sedang persiapkan semuanya. Di atas pohon ini, telah aku gantungkan harapan masa depan kita bersama.

Sebentar lagi, dunia kita tak lagi berbeda.
Ah, sulitnya menyamakan duniaku dengan Reina tak lagi aku rasakan. Semua sudah terasa ringan sekarang.

Ada yang berbeda di sini. Apakah aku telah sampai pada tujuanku? Sebuah tempat indah bernama keabadian, yang akan aku jalani bersama kekasihku?

Yah, melihat remang dan warna redup di sekitarku membuat aku mengerti. Rupanya aku telah sampai di dunia yang bisa mempertemukan aku dengan gadis tercinta.

Tetapi, di mana Reina? Mengapa dia tidak menyambut kedatanganku?

Di manakah dirimu, sayang?
Lihatlah! Aku sudah datang!

Aku tak akan pergi kemana pun.
Engkau tahu bahwa aku akan datang, bukan?
Aku akan menunggumu di sini, sayang.

Aku menunggu dengan sabar
Di atas sini melayang-layang
Tergoyang angin menantikan tubuh itu

***

Sekian lama aku tergoyang angin di atas sini, dari jauh aku mendengar namaku dipanggil oleh seseorang. Bukan, bukan satu orang tetapi beberapa orang.

“Rio! Rio!”

“Rio, di mana kamu?”

“Rio!”

Mengapa mereka terus memanggil namaku? Bahkan panggilannya lebih bisa disebut sebagai teriakan. Bukankah aku sudah katakan bahwa aku akan menyusul Reina?

Ah, sudahlah. Jika mereka sampai di sini, di tempat di mana aku melayang layang menunggu kekasihku, akan mereka temukan puisiku yang bisa mereka baca.

Hmm, gaduh sekali suara mereka. Tidakkah mereka tahu, bahwa aku butuh ketenangan di sini? Bagaimana Reina akan datang jika mereka terus teriak begitu? Mereka benar-benar mengganggu waktu indahku.

Aku mendengar suara mendekat. Diam. Aku harus diam dan tenang, aku tak boleh bersuara. Biarkan angin saja yang menggoyang tubuhku yang melayang-layang.

“Ya Tuhan! Rio!” sebuah teriakan di depanku sungguh memekakkan telinga!

“Teman-teman! Rio ada di sini! Aku sudah menemukan dia!

Kemudian aku melihat beberapa orang berlarian ke arahku.

“Ya Tuhan, Rio! Dia gantung diri!”

Apa dia bilang? Aku gantung diri? Ish, ngawur! Aku hanya menyamakan duniaku dengan Reina, kekasihku. Agar aku bisa segera bersama lagi dengannya. Berdua kembali.

Ah, biarlah sesuka mereka bicara apa. Yang penting, aku tahu apa yang aku lakukan. Aku pasti bahagia bersama Reina. Itu sudah cukup.
Mereka cukup membaca puisiku saja.

***

Aku ingin berjalan bersamamu
Dalam hujan dan malam gelap
Tapi aku tak bisa melihat matamu

Aku ingin berdua denganmu
Di antara daun gugur
Aku ingin berdua denganmu
Tapi aku hanya melihat keresahanmu

Aku menunggu dengan sabar
Di atas sini melayang-layang
Tergoyangkan angin menantikan tubuh itu

♡♡♡♡

Wimala Anindita
Bandung 210120

0