WANGI YANG MENGGODA

Berjalan menyibak keramaian jalanan.
Di tengah putaran karet-karet hitam bundar.
Mencoba melipat jarak.
Sebuah keharusan dan tanggungjawab melekat di pundak.
Sampai tujuan.
Berjalan perlahan, menebar senyum dan bahagia.
Mengobrol ringan.Engkau menyapa semua orang.
Kau orang baik, begitulah menurut pandanganku.
Membuka pintu perlahan. Aroma wangi menyapa ujung hidung.
Menggoda.

Hhhmmm… enak sekali.

“Aromanya…. Aku tak tahan,” katamu sedikit kesal.

Kau berpaling kepadaku, si hitam pengisi cangkir yang hampir kosong.
Mendatangiku, kau raih cangkir putih di atas meja sebelah. Aku ada di dalamnya.

“Boleh aku cicip?” tanyamu manja.

Dia mengangguk perlahan. Dia tahu kecintaanmu kepadaku. Dia tahu wangi tubuhku selalu membuatmu mabuk kepayang. Tidak bisa melewatkan kehadiranku.

“Cukup dua kecup saja. Terimakasih,” ujarmu sambil meletakkan cangkir ke tempatnya.

Puas.
Senyummu indah.
Aku suka.

“Aahhhh… kopi,” rintihmu tiba-tiba.

Kau mulai memegang kepala seperti biasa. Wajah mengernyit. Kesakitan.
Kau sakit lagi!

Kau belum sembuh!
Mengapa kau nekat mencecap keindahan tubuhku?
Lihatlah dirimu!
Karena cintamu padaku, kau menyakiti diri sendiri.

Hentikanlah!
Aku tahu kau mencintai aku.
Aku tak akan pergi.
Percayalah.

Aku tetap mendampingimu, meski kau tak bisa menyentuh diriku.
Sembuhlah!
Cepat!
Agar kita bisa bercinta kembali.

Aku kopi, dengan wangi yang memukau.
Akan tetap di sini, menunggu.
Datanglah segera!
Cepat nikmatiwangi dan hangat tubuhku.

Wimala Anindita,
Bandung 110619

0